SLBN PKK Lampung Layani 220 Siswa Disabilitas

  • 30 Agt 2026 20:19 WIB
  •  Bandar Lampung
Poin Utama
  • SLBN PKK Provinsi Lampung saat ini melayani sekitar 220 peserta didik berkebutuhan khusus dari jenjang SD hingga SMA.
  • Keterbatasan tenaga pendidik dan kependidikan menjadi tantangan utama dengan total hanya 55 orang untuk melayani 220 peserta didik.
  • Plt Kepala SLBN PKK Provinsi Lampung Bambang Irawan menekankan perlunya memaksimalkan sumber daya yang tersedia untuk mengatasi keberagaman karakteristik dan kebutuhan peserta didik.

RRI.CO.ID, Bandarlampung - Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) PKK Provinsi Lampung saat ini melayani sekitar 220 peserta didik berkebutuhan khusus. Jumlah tersebut berasal dari jenjang SD hingga SMA. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri karena jumlah tenaga pendidik dan kependidikan masih terbatas.

Plt Kepala SLBN PKK Provinsi Lampung Bambang Irawan mengatakan, total tenaga pendidik dan kependidikan di sekolah tersebut mencapai 55 orang. Jumlah itu harus melayani 220 peserta didik dengan karakteristik dan kebutuhan yang beragam. Menurutnya, kondisi tersebut membuat sekolah harus memaksimalkan sumber daya yang tersedia.

"Kita bagaimana sih memang benar-benar membuat ini semua memaksimalkan, istilahnya seperti itu, untuk layanan pendidikan," ujar Bambang.

Ia menyebut keterbatasan guru menjadi salah satu tantangan utama dalam memberikan layanan pendidikan secara optimal. Terlebih jumlah peserta didik sudah melebihi kapasitas yang ideal.

SLBN PKK Provinsi Lampung melayani berbagai kebutuhan khusus, mulai dari tunanetra, tunarungu, tunagrahita, tunadaksa hingga anak dengan autisme. Pembelajaran disesuaikan dengan karakteristik setiap peserta didik. Sekolah juga mengedepankan kemandirian dan keterampilan vokasional sebagai bekal setelah peserta didik menyelesaikan pendidikan.

Bambang menjelaskan, pembelajaran tetap mengacu pada kurikulum nasional dengan pendekatan pembelajaran mendalam. Proses belajar juga banyak dilakukan melalui praktik agar peserta didik memperoleh pengalaman langsung.

"Kalau untuk anak berkebutuhan khusus ini kan kita sangat mengedepankan kemandirian sama vokasi," katanya.

Menurut Bambang, penguatan kemandirian diberikan secara bertahap sesuai jenjang pendidikan. Pada tingkat SD, peserta didik diperkenalkan dengan keterampilan dasar dan aktivitas sehari-hari. Sementara jenjang SMP mulai diarahkan pada pilihan keterampilan vokasional, sedangkan SMA lebih difokuskan pada satu keterampilan yang dapat menjadi bekal setelah lulus.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....