Dilema "Flexing" Karya di LinkedIn: Membangun Portofolio dan Toxic Positivity
- 27 Mei 2026 07:37 WIB
- Bandar Lampung
RRI.CO.ID, Bandar Lampung - Platform profesional LinkedIn kini telah berubah fungsi dari sekadar tempat menaruh resume digital menjadi media sosial yang sangat aktif digunakan oleh mahasiswa dan lulusan baru untuk memamerkan pencapaian karier mereka atau yang populer dengan istilah flexing. Setiap harinya, lini masa dipenuhi oleh unggahan cerita keberhasilan memenangkan kompetisi bisnis, kelulusan program magang di perusahaan elit, hingga sertifikasi keahlian tingkat lanjut yang ditulis dengan gaya narasi inspiratif yang panjang. Di satu sisi, tren ini dinilai positif untuk membangun penjenamaan personal (personal branding), namun di sisi lain mulai memicu kecemasan massal terkait budaya toxic positivity di dunia kerja.
Bagi pencari kerja muda, menampilkan portofolio keberhasilan secara publik di LinkedIn merupakan strategi digital yang sangat efektif untuk menarik perhatian para manajer perekrut korporasi. Algoritma platform yang mengutamakan interaksi teks membuat cerita perjuangan karier yang estetik berpeluang besar menjadi viral dan membuka peluang kerja baru yang tidak terduga. Namun, gempuran narasi sukses yang tiada henti ini sering kali menciptakan tekanan psikologis tersendiri bagi pengguna lain yang masih berjuang mencari pekerjaan atau mengalami pemutusan hubungan kerja.
Banyak remaja merasa mengalami sindrom imposter atau merasa tidak berharga karena selalu membandingkan proses hidup mereka dengan puncak pencapaian orang lain yang ditampilkan secara berkilau di dunia maya. Muncul kritik bahwa platform tersebut kini terlalu banyak diwarnai oleh kepura-puraan, di mana kegagalan dan dinamika kerja yang melelahkan sengaja disembunyikan demi menjaga citra profesional yang sempurna. Kondisi ini menuntut pengguna muda untuk lebih bijak dan memiliki filter emosional yang kuat saat berselancar di media sosial profesional tersebut.
Para ahli psikologi kerja menyarankan agar anak muda mulai mengubah pola unggahan mereka dengan lebih banyak membagikan proses belajar, kegagalan yang dihadapi, serta diskusi teknis yang substantif daripada sekadar pamer sertifikat kelulusan. LinkedIn seharusnya dikembalikan fungsinya sebagai ruang kolaborasi dan pembelajaran interaktif antar-profesi, bukan wadah kompetisi gengsi sosial yang semu. Dengan ekosistem digital yang lebih jujur dan suportif, diharapkan tekanan mental di kalangan pencari kerja muda dapat dikurangi secara signifikan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....