Numerasi Bukan Sekadar Matematika
- 25 Jan 2026 07:56 WIB
- Bandar Lampung
RRI.CO.ID, Bandarlampung - Dalam upaya menyongsong visi Indonesia Emas 2045, peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) menjadi prioritas utama yang tidak dapat ditawar. Namun, tantangan besar masih membentang, terutama dalam bidang literasi dan numerasi.
Dr. Dina Apryani, M.Pd., akademisi dari Fatayat NU sekaligus perwakilan Forum Puspa Lampung, menegaskan bahwa kemampuan numerasi adalah pilar vital yang hingga kini masih sering disalahpahami oleh masyarakat luas.
Dr. Dina Apryani, M.Pd menyoroti fenomena "salah kaprah" yang menyamakan numerasi sepenuhnya dengan pelajaran matematika di sekolah.
"Banyak yang menganggap numerasi itu hanya soal matematika atau sekadar berhitung angka. Padahal, numerasi adalah kemampuan berpikir logis, menganalisis data, dan mengambil keputusan yang tepat di kehidupan nyata," ujar Dr. Dina.
Beliau menjelaskan bahwa jika matematika seringkali berkutat pada rumus abstrak, numerasi lebih menekankan pada aplikasi praktis. Seseorang yang memiliki kemampuan numerasi baik akan mampu melihat pola, memahami risiko, dan tidak mudah terkecoh oleh penyajian data yang menyesatkan.
Kekhawatiran Dr. Dina bukan tanpa alasan. Ia memaparkan data bahwa saat ini Indonesia berada di peringkat 68 dari 81 negara dalam kemampuan numerasi global. Posisi ini menunjukkan adanya celah besar yang harus segera ditutupi agar generasi mendatang tidak tertinggal.
Menurutnya, rendahnya kemampuan numerasi berdampak langsung pada daya saing bangsa:
Era Ekonomi Berbasis Pengetahuan: Tanpa fondasi numerasi yang kuat, generasi muda akan kesulitan beradaptasi dengan teknologi dan industri modern.
Ketahanan Terhadap Hoaks: Budaya numerasi membangun nalar kritis. Masyarakat yang literat secara numerasi tidak akan mudah termakan informasi palsu (hoaks) karena mampu mengolah informasi secara logis.
Dr. Dina Apryani, M.Pd mengajak seluruh elemen masyarakat, mulai dari keluarga hingga lembaga pendidikan, untuk mulai membangun budaya numerasi sejak dini. Numerasi harus dipandang sebagai life skill atau keterampilan hidup, bukan sekadar nilai di atas kertas raport.
"Peningkatan SDM adalah harga mati. Jika kita ingin mencapai Indonesia Emas, kita harus memastikan masyarakat kita mampu berpikir kritis dan berbasis data," kata Dr. Dina.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....