Gen Z Beralih dari Kopi Panas ke Minuman Dingin

  • 31 Agt 2026 23:08 WIB
  •  Bandar Lampung
Poin Utama
  • Tiga dari empat minuman yang terjual di Starbucks adalah minuman dingin, bukan kopi panas seperti awalnya dikenal.
  • Generasi Z (lahir 1997-2012) menjadi pendorong utama tren ini dengan preferensi pada minuman yang dapat disesuaikan seperti es buah, protein shake, dan dirty soda yang viral.
  • Pelanggan muda seperti Elaine Ling dari New York dan California menghindari kopi Starbucks karena dianggap terlalu manis dan lebih memilih refresher yang lebih ringan.

RRI.CO.ID, Bandar Lampung - Starbucks mungkin dikenal sebagai kedai kopi sejak lima dekade lalu, namun kini tiga dari empat minuman yang terjual adalah minuman dingin—mulai dari es buah, protein shake, hingga "dirty soda" yang viral. Tren ini didorong oleh Generasi Z (lahir 1997–2012) yang lebih menyukai minuman yang bisa disesuaikan dengan selera mereka.

Elaine Ling (21), pelanggan muda asal New York dan California, mengaku hanya datang ke Starbucks untuk minuman dingin, bukan kopi. "Kopi mereka terlalu manis. Saya lebih suka refresher," ujarnya kepada BBC.

Menurut Tristan Höver dari Euromonitor, Gen Z melihat minuman sebagai produk yang bisa dipersonalisasi untuk momen tertentu. "Kustomisasi memberi mereka rasa kendali," katanya. Meski sensitif harga, mereka rela membayar lebih jika minuman terasa istimewa, besar, atau menarik secara visual.

Analis Jerry Sheldon dari IHL Group menilai fenomena ini bagian dari pergeseran budaya. "Minuman dingin jadi bentuk ekspresi diri, seperti pakaian atau warna rambut." Sementara profesor pemasaran Kelly Goldsmith menambahkan, konsumen bukan membeli isi cangkir, melainkan "nilai merek" yang melekat, seperti tas mewah terjangkau.

Media sosial turut mengerek popularitas. Saat Starbucks meluncurkan Unicorn Frappuccino yang viral di TikTok, kunjungan ke gerai melonjak 44% dalam tiga hari, menurut data Placer.ai.

Rantai lain seperti Dunkin' Donuts, McDonald's, hingga Taco Bell pun ikut meluncurkan minuman dingin serupa, bahkan berkolaborasi dengan selebriti seperti Kylie Jenner untuk menjangkau audiens muda.

Tren ini tak hanya di AS. Di Inggris, pembeli di bawah 25 tahun membeli minuman dingin 60% lebih banyak dibanding minuman panas, sementara kelompok usia di atas 55 tahun hanya 30%. Lebih dari 70% pembelian terjadi sepanjang tahun, bukan hanya musim panas.

Profesor Tirtha Dhar dari Kanada menyebut minuman dingin sebagai "titik manis" bisnis Starbucks. Kustomisasi tanpa batas—dengan busa, rasa, atau protein—hampir murni keuntungan. Kategori ini kini menyumbang lebih dari 70% penjualan minuman Starbucks di AS dan menjadi kunci kebangkitan perusahaan setelah sempat lesu.

Dengan personalisasi, estetika, dan pengaruh media sosial, minuman dingin bukan sekadar pelepas dahaga, melainkan gaya hidup baru Generasi Z.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....