Sanksi AS ke Iran: Siapa Mitra Dagang Terbesarnya?
- 31 Agt 2026 22:49 WIB
- Bandar Lampung
Poin Utama
- Iran menyatakan 'siap sepenuhnya' menghadapi gelombang sanksi ekonomi terbesar yang pernah dijatuhkan Amerika Serikat, meskipun hal ini diklaim sebagai 'serangan finansial tunggal terbesar dalam sejarah'.
- Para ekonom meragukan efektivitas sanksi tersebut mengingat Iran telah memiliki pengalaman panjang dalam menghadapi tekanan ekonomi dari Washington sejak Revolusi Islam 1979.
- Selama lebih dari empat dekade di bawah tekanan sanksi AS, Iran telah membangun jaringan dagang yang kuat dengan negara-negara yang tidak mudah dipengaruhi oleh kebijakan Washington, sehingga meningkatkan ketahanan ekonominya.
RRI.CO.ID, Bandar Lampung - Iran menyatakan "siap sepenuhnya" menghadapi gelombang sanksi ekonomi terbesar yang pernah dijatuhkan Amerika Serikat — namun para ekonom meragukan efektivitasnya. Inilah alasannya.
Washington menyebut langkah ini sebagai "D-Day ekonomi", diklaim sebagai "serangan finansial tunggal terbesar dalam sejarah". Namun Iran bukan negara yang asing dengan tekanan semacam ini. Sejak Revolusi Islam 1979, negara itu telah hidup di bawah sanksi AS hampir tanpa henti — dan dalam kurun waktu itu, Iran membangun jaringan dagang yang kuat dengan negara-negara yang sulit didikte Washington.
China: Pembeli Terbesar yang Tak Gentar
Berdasarkan data International Trade Centre (ITC) PBB, China menyerap 26,9% ekspor Iran pada 2025. Merespons sanksi terbaru AS, Beijing tegas menolak apa yang disebutnya "sanksi sepihak ilegal" dan menyatakan akan melindungi kepentingan ekonominya sendiri.
Turki: Terjebak di Antara Dua Kepentingan
Sebagai satu-satunya anggota NATO yang berbatasan langsung dengan Iran, Turki berada di posisi serba sulit. Di satu sisi, AS mengancam akan menghukum negara yang tetap berdagang dengan Iran. Di sisi lain, ekonomi Turki — yang sudah tertekan inflasi 31,8% — tak mampu menanggung risiko memutus hubungan dagang dengan tetangganya itu.
Pakistan: Mediator yang Tersandera Penyelundupan
Pakistan berbatasan dengan Iran sekaligus menjadikan AS sebagai mitra ekspor utamanya — kombinasi yang menempatkannya pada posisi paling rawan. Lebih pelik lagi, BBC menemukan bukti penyelundupan minyak Iran ke Pakistan secara masif melalui jalur perbatasan sepanjang 900 km, bahkan melibatkan remaja berusia 15 tahun. Pemerintah Pakistan kesulitan mengendalikan praktik ini di wilayah perbatasan yang terpencil.
Armenia: Tak Takut Sanksi, Sudah Terbiasa
Armenia, yang 34,9% ekspornya mengalir ke Rusia — negara yang kini juga disanksi Barat — diperkirakan tidak akan mudah meninggalkan Iran sebagai mitra dagangnya.
Sanksi Ini Efektif atau Sekadar Gertakan?
Para ahli terbagi. Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyebut sanksi ini akan "memperketat jerat dan memblokir setiap sumber pendapatan" Iran. Namun firma konsultan Oxford Economics menyebutnya sebagai "petasan basah" yang dampaknya terbatas.
Ali Vaez dari International Crisis Group menyoroti pertanyaan kunci: "Apakah AS punya kemampuan untuk menjatuhkan denda kepada negara-negara yang tetap berdagang dengan Iran?" — terutama setelah Washington sendiri mundur dari perang ekonomi melawan China tahun lalu.
Pasar global pun bereaksi dingin. Harga minyak dunia turun tipis, sementara bursa saham di AS, Eropa, dan Asia nyaris tak bergerak. Sebuah sinyal bahwa investor belum yakin sanksi ini akan menggigit.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....