Pentingnya Membangun Karakter Antikorupsi sejak Dini
- 13 Sep 2026 15:54 WIB
- Bandar Lampung
RRI.CO.ID, Bandar Lampung : Upaya pemberantasan korupsi tidak cukup hanya mengandalkan penegakan hukum terhadap pelaku. Pembentukan karakter antikorupsi sejak usia dini dinilai menjadi langkah penting untuk mencegah tumbuhnya perilaku koruptif di masa depan.
Dosen Hukum Tata Negara Fakultas Hukum Universitas Lampung, Dr. Yusdianto, S.H., M.H., mengatakan pendidikan antikorupsi perlu dimulai dari lingkungan terdekat anak, terutama keluarga. Nilai-nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, disiplin, dan keberanian untuk mengatakan yang benar perlu ditanamkan melalui kebiasaan sehari-hari. Yusdianto sebelumnya menekankan bahwa keluarga memiliki peran penting dalam membentuk karakter dan menjadi benteng awal untuk mencegah perilaku koruptif.
“Karakter antikorupsi tidak terbentuk secara tiba-tiba ketika seseorang sudah dewasa. Nilai kejujuran dan tanggung jawab harus dibiasakan sejak kecil melalui lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat,” ujar Yusdianto.Menurutnya, perilaku koruptif dapat berawal dari kebiasaan kecil yang dianggap sepele. Misalnya, tidak jujur ketika melakukan kesalahan, mengambil sesuatu yang bukan miliknya, memanipulasi informasi, atau menggunakan fasilitas yang bukan menjadi haknya.
Jika kebiasaan tersebut dibiarkan, anak dapat tumbuh dengan anggapan bahwa tindakan tidak jujur merupakan sesuatu yang wajar selama tidak diketahui orang lain. Karena itu, pendidikan karakter menjadi bagian penting dalam membangun kesadaran bahwa integritas harus dijalankan meskipun tidak ada yang mengawasi.
Lingkungan sekolah juga memiliki peran strategis. Pendidikan antikorupsi tidak harus selalu diberikan dalam bentuk materi khusus, tetapi dapat diterapkan melalui kebiasaan sederhana, seperti mengerjakan tugas secara jujur, menaati aturan, bertanggung jawab terhadap tugas kelompok, serta menghargai hak orang lain.
Di lingkungan keluarga, orang tua dapat memberikan contoh secara langsung. Anak akan lebih mudah memahami nilai kejujuran ketika melihat orang tua menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, pendidikan antikorupsi bukan hanya berupa nasihat, tetapi menjadi bagian dari perilaku yang dilakukan secara konsisten.
Yusdianto menilai pembentukan karakter juga perlu diperkuat dengan kesadaran bahwa korupsi memiliki dampak luas terhadap masyarakat. Ketika uang atau kewenangan yang seharusnya digunakan untuk kepentingan publik disalahgunakan, masyarakat dapat kehilangan hak atas pelayanan dan pembangunan yang semestinya mereka terima.
“Jangan sampai anak hanya memahami korupsi sebagai mengambil uang negara. Lebih jauh dari itu, mereka perlu memahami nilai integritas, yaitu tidak mengambil sesuatu yang bukan haknya dan tidak menyalahgunakan kepercayaan yang diberikan,” katanya. Upaya membangun generasi antikorupsi juga membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Pemerintah, lembaga pendidikan, keluarga, organisasi masyarakat, dan lingkungan sosial perlu memiliki komitmen yang sama dalam menciptakan budaya berintegritas.
Di tengah perkembangan teknologi dan media sosial, pendidikan karakter menjadi semakin penting. Anak dan remaja berhadapan dengan berbagai informasi serta perilaku yang mereka lihat setiap hari. Kemampuan membedakan tindakan yang benar dan salah perlu dibangun melalui pendidikan moral, keteladanan, serta literasi yang memadai. Membangun karakter antikorupsi sejak dini menjadi investasi jangka panjang. Dengan membiasakan kejujuran, tanggung jawab, disiplin, dan integritas sejak kecil, masyarakat dapat menyiapkan generasi yang tidak hanya memahami bahwa korupsi merupakan pelanggaran hukum, tetapi juga menyadari bahwa perilaku koruptif merusak kepercayaan dan kepentingan bersama.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....