Tren Retro Kembali Digemari, Gen Z Cari Kenyamanan lewat Nostalgia

  • 23 Jul 2026 04:25 WIB
  •  Bandar Lampung

RRI.CO.ID, Bandarlampung - Tren bergaya retro dan bernuansa nostalgia kembali mendapat tempat di kalangan Generasi Z (Gen Z). Mulai dari musik era 1980-an dan 1990-an, pakaian bergaya Y2K, kamera analog, piringan hitam (vinyl), hingga permainan lawas kembali diminati, meski sebagian besar Gen Z tidak mengalami langsung masa tersebut.

Laporan terbaru dari perusahaan riset konsumen GlobalWebIndex (GWI) menunjukkan bahwa Gen Z menjadi generasi yang paling terdorong oleh rasa nostalgia. Sebanyak 15 persen Gen Z mengaku lebih suka memikirkan masa lalu dibandingkan masa depan, sementara 50 persen di antaranya merasa nostalgia terhadap berbagai bentuk media, menjadikan mereka sebagai pendorong utama tren nostalgia saat ini.

Menurut GWI, fenomena tersebut dipengaruhi oleh berbagai tantangan yang dihadapi generasi muda dalam beberapa tahun terakhir, mulai dari dampak pandemi, ketidakpastian ekonomi, hingga tingginya biaya hidup. Kondisi tersebut membuat banyak anak muda mencari rasa nyaman melalui budaya populer dari masa lalu yang dianggap lebih sederhana dan menyenangkan.

Menariknya, ketertarikan terhadap era lampau tidak selalu berasal dari pengalaman pribadi. Sebanyak 37 persen Gen Z mengaku merasa nostalgia terhadap dekade 1990-an, meskipun sebagian besar dari mereka lahir setelah era tersebut. Daya tariknya terletak pada suasana yang dinilai lebih santai, autentik, dan minim tekanan dibandingkan kehidupan digital saat ini.

Media sosial turut berperan besar dalam menghidupkan kembali tren retro. Platform seperti TikTok menjadi ruang bagi lagu-lagu lawas untuk kembali populer melalui konten kreatif dan video viral. Tidak hanya musik, tren fesyen, film, hingga penggunaan media fisik seperti CD dan vinyl juga kembali diminati oleh kalangan muda.

GWI mencatat bahwa Gen Z pengguna TikTok bahkan lebih cenderung mendengarkan musik menggunakan CD atau piringan hitam serta memiliki ketertarikan lebih tinggi terhadap musik era 1980-an dibandingkan rata-rata pengguna seusianya. Fenomena ini menunjukkan bahwa media sosial tidak hanya melahirkan tren baru, tetapi juga menghidupkan kembali budaya populer dari masa lalu.

Meski demikian, GWI mengingatkan bahwa tren nostalgia tidak sekadar menghadirkan kembali gaya lama. Bagi pelaku industri kreatif maupun merek, pendekatan bernuansa retro perlu dikemas secara relevan, inklusif, dan sesuai dengan nilai-nilai masa kini agar dapat diterima oleh generasi muda. Membuat kembali film, musik, maupun produk lama dinilai akan lebih berhasil apabila mampu menghadirkan sentuhan baru tanpa menghilangkan esensi yang membuatnya dikenang.

Fenomena ini menunjukkan bahwa bagi Gen Z, nostalgia bukan hanya tentang mengenang masa lalu, melainkan juga menjadi cara untuk mencari kenyamanan, identitas, dan pengalaman yang terasa lebih autentik di tengah derasnya perkembangan teknologi dan perubahan gaya hidup digital.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....