Aksesori Sehari-hari yang Menjadi Identitas Bagi Gen-Z.
- 27 Nov 2025 19:14 WIB
- Bandar Lampung
KBRN, Bandarlampung: Setiap pagi, sebelum berangkat kuliah atau bekerja, anak-anak muda kini punya ritual kecil yang tak pernah terlewat: memilih tumbler dan tote bag yang akan menemani mereka seharian. Kedengarannya sederhana, tapi bagi banyak orang, dua benda ini bukan sekadar perlengkapan. Mereka adalah bagian dari identitas semacam “tanda pengenal” yang dibawa ke mana-mana.
Tumbler bukan lagi sekadar wadah, Di coffee shop, deretan tumbler warna-warni berdiri di meja, seolah ikut menjadi bagian dari perbincangan. Ada yang tampil minimalis dengan warna monokrom, ada pula yang ramai dengan stiker band, ilustrasi karakter, key chain, atau gambar kucing yang menggemaskan.
Buat Dita (21), tumbler bukan hanya tempat menyimpan air. “Ini mood booster aku,” katanya sambil tertawa. Setiap minggu, ia sengaja mengganti stiker atau strap pada tumbler miliknya, hanya untuk memastikan tampilannya selalu terasa seperti dirinya.
| Baca juga: Cara Membuat Akhir Pekan Lebih Berkualitas |
Fenomena tumbler edisi kolaborasi brand lokal hingga brand kopi ternama juga membuatnya semakin punya nilai emosional. Tumbler bukan sekadar barang, melainkan cerita. Ada yang didapat saat traveling, ada yang dibeli sebagai hadiah untuk diri sendiri, bahkan ada yang viral dan diburu banyak orang.
Di jalan-jalan kota besar, tote bag menjadi pemandangan umum. Ada yang menentengnya saat mengantre bus, berjalan ke kampus, atau sekadar ngopi sambil mengetik di laptop. Tote bag seakan menjadi ruang bebas untuk menunjukkan karakter.
Tas polos, tas dengan quote jenaka, tas bergambar ilustrasi seni, hingga tote bag yang memamerkan logo coffee shop favorit, semuanya bercerita. “Kadang aku baca tote bag orang, dan langsung tau dia anaknya kayak apa,” ujar Marvel (20), mahasiswa desain grafis.
Tote bag yang sederhana ternyata bisa menjadi petunjuk kecil tentang kepribadian. Ada yang memilih desain minimalis, ada yang mengekspresikan aktivisme, ada yang menunjukkan fandom, dan ada yang hanya ingin terlihat estetik.
Aksesori tersebut bisa menjadi bahasa sunyi yang tanpa perlu memperkenalkan diri, aksesori ini berbicara lebih dulu. Ia menjadi bahasa nonverbal yang memudahkan kita menebak gaya hidup seseorang. Peduli lingkungan? Fashion-conscious? Anak seni? Pencinta kopi? Pecinta musik? Semua bisa terlihat dari apa yang mereka bawa.
Dan, menariknya, aksesori ini justru menjadi penghubung sosial. Banyak pertemanan dimulai dari kalimat sederhana seperti, “Eh, kamu beli tote bag itu di mana?” atau “Tumblermu lucu banget!”
Hal tersebut juga diperkuat Media Sosial. Di TikTok dan Instagram, tren “What’s in my bag” semakin memperkuat budaya aksesori ini. Barang-barang kecil yang dulu dianggap remeh kini tampil sebagai bagian dari estetika harian. Setiap benda dipilih dengan alasan, dan setiap alasan punya cerita.
Tote bag dan tumbler menjadi simbol kecil bahwa identitas tidak harus mahal. Ia bisa dibangun dari hal-hal sederhana yang kita bawa setiap hari.
Pada akhirnya, dua aksesori ini menjadi cermin kecil: tentang siapa kita, apa yang kita suka, dan apa yang ingin kita tunjukkan kepada dunia. Mereka mungkin ringan, tapi maknanya bisa berat.
Di tengah tren yang cepat berubah, tumbler dan tote bag justru bertahan. Mungkin karena identitas bukan sekadar tren, ia adalah sesuatu yang dibawa, dirawat, dan dibangun setiap hari, sama seperti dua benda sederhana itu.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....