Taylor Swift Dominasi VMA, Video Musik Masih Penting?
- 30 Sep 2026 20:48 WIB
- Bandar Lampung
Poin Utama
- Taylor Swift memecahkan rekor sebagai artis paling sukses dalam sejarah MTV Video Music Awards dengan jumlah kemenangan terbanyak.
- Prestasi Swift di VMA menegaskan bahwa penghargaan ini masih menjadi panggung bergengsi bagi bintang-bintang papan atas industri musik.
- Di tengah perubahan perilaku penonton dalam menikmati musik, relevansi video musik sebagai medium hiburan kembali menjadi pertanyaan penting.
RRI.CO.ID, Bandar Lampung - Taylor Swift kembali mencetak sejarah di MTV Video Music Awards (VMA). Namun di tengah perubahan cara penonton menikmati musik, pertanyaan lama kembali muncul: apakah video musik masih punya daya pikat?
Swift menjadi artis paling sukses dalam sejarah VMA. Pada ajang tahun ini, ia kembali memecahkan rekor kemenangan MTV VMA terbanyak. Prestasi itu menegaskan bahwa VMA masih menjadi panggung bergengsi bagi para bintang papan atas.
Deretan nama besar seperti Madonna dan Charli XCX juga hadir untuk menerima penghargaan dan tampil di atas panggung. Bagi sebagian orang, ajang penghargaan mungkin terasa sekadar pertunjukan. Namun bagi industri musik, VMA dinilai tetap penting.
“Malam-malam tanpa tidur, berbulan-bulan, berminggu-minggu untuk menyusun video musik, hampir sama banyak dengan kerja untuk film,” kata sinematografer Melissa Cofie kepada BBC Newsbeat.
Fungsi video musik berubah
Cofie menilai fungsi video musik telah bergeser dalam dua dekade terakhir. Jika dulu video musik menjadi bagian penting dari rangkaian promosi, kini lebih menjadi cara artis terhubung dengan penggemar dan mengekspresikan visi mereka.
Meski begitu, sejumlah bintang pop seperti Taylor Swift, Sabrina Carpenter, dan Olivia Rodrigo masih mengandalkan video musik untuk membangun dunia visual setiap era album. Swift dikenal lewat produksi berbiaya besar yang dipenuhi petunjuk tersembunyi atau easter egg.
Video terbarunya untuk lagu Opalite bahkan menampilkan banyak wajah terkenal, termasuk Graham Norton, Lewis Capaldi, Cillian Murphy, Domhnall Gleeson, dan Jodie Turner-Smith.
Namun, video tersebut dirilis eksklusif di Spotify dan Apple Music pada Februari, lalu baru muncul di YouTube 48 jam kemudian. Analis industri menduga masa eksklusivitas itu terkait perubahan aturan tangga lagu Amerika Serikat. Lagu yang diputar di YouTube tidak lagi dihitung untuk Top 100.
Perubahan itu berlaku pada Januari. YouTube disebut mengakhiri kemitraan sepuluh tahun dengan Billboard karena menilai tangga lagu memakai formula usang yang lebih memberi bobot pada stream berlangganan dibandingkan stream gratis.
“Ini tidak mencerminkan cara penggemar berinteraksi dengan musik hari ini dan mengabaikan keterlibatan besar dari penggemar yang tidak memiliki langganan,” kata YouTube.
Bagi artis tanpa anggaran sebesar Swift, aturan ini bisa semakin menyurutkan minat membuat video musik mahal dan rumit.
K-Pop dan klip pendek
Di pasar internasional seperti K-Pop, video musik tetap menjadi elemen penting. Bintang K-Pop seperti BTS dan Blackpink sering merilis beberapa video musik untuk satu lagu, ditambah video latihan tari dan konten di balik layar.
Variasi itu memberi lebih banyak materi untuk dipotong dan disebarkan di media sosial. Hasilnya, jumlah streaming dan posisi tangga lagu global ikut terdorong.
Cofie menilai kebangkitan TikTok, Instagram, dan YouTube telah mengubah cara video dikonsumsi sekaligus cara video dibuat. Namun ia tidak melihatnya sebagai pukulan bagi industri.
“Ini mendorong kami berpikir: oke, bagaimana setiap adegan, setiap gambar bisa menangkap perhatian orang?” ujarnya.
“Kita tidak lagi punya lima menit. Kita punya dua menit, kadang kurang. Ini mendorong kami sebagai kreator untuk menyampaikan pesan dengan cepat sebaik mungkin.”
Contohnya video musik sinematik Gener8ion dan rapper Swedia Yung Lean untuk lagu kolaborasi Storm. Dalam video itu, Yung Lean berperan sebagai remaja pembuli yang berdiri di antara penari berseragam sekolah dengan koreografi hipnotis dan sinkron.
Mereka membawakan ulang koreografi tersebut di VMA. Meski kalah dalam kategori Video of the Year dari Swift lewat The Fate of Ophelia, potongan penampilan mereka kembali membanjiri media sosial.
Cofie mengakui cukup sulit menemukan ide kreatif baru sejak klip pendek meledak pascapandemi. Meski begitu, ia terus terinspirasi oleh video musik baru.
“Kedengarannya klise, tapi teruslah kreatif dan jelajahi setiap sudut pikiran. Ide apa pun, lakukan saja. Jangan khawatir itu sudah pernah dibuat dan tidak orisinal, karena interpretasi setiap orang berbeda,” pesannya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....