Ulasan What Remains: Drama Turki Puitis tentang Melepas

  • 30 Sep 2026 18:56 WIB
  •  Bandar Lampung
Poin Utama
  • Film 'What Remains' karya sutradara Yeşim Ustaoğlu dari Turki mendapat pujian dari kritikus Jessica Kiang dari Variety sebagai drama yang kontemplatif namun menggugah.
  • Cerita berpusat pada tokoh Elif, seorang penyair kenamaan Turki yang kehilangan daya cipta dan hidup bersama putranya Selim serta pasangannya Mehmet di Istanbul.
  • Kehidupan keluarga yang bohemian menjadi goyah ketika Mehmet kehilangan pekerjaan sebagai pengajar musik, menciptakan ketegangan dalam narasi film.

RRI.CO.ID, Bandar Lampung - Dalam ulasan Jessica Kiang untuk Variety, film "What Remains" karya sutradara Yeşim Ustaoğlu disebut sebagai drama yang kontemplatif namun menggugah. Film ini dinilai mampu menemukan puisi di lanskap pedesaan Turki.

Kisahnya berpusat pada Elif (Ökyü Karayel), penyair kenamaan Turki yang kehilangan daya cipta. Ia tinggal di Istanbul bersama putranya, Selim (Ali Kayra Kul), dan pasangannya, Mehmet (Metin Akdülger), seorang musisi eksperimental. Hidup mereka bohemian, tetapi goyah ketika Mehmet kehilangan pekerjaan sebagai pengajar musik.

Konflik memuncak. Elif mengaku tak mandi berpekan-pekan dan nyaris tak makan. Mehmet menyebut tak memahami seberapa dalam masalah Elif. Setelah malam yang dingin dan sebuah perpisahan, Elif berkendara keluar dari Istanbul. Ia menyusuri jalan raya, terowongan, dan bentang alam Turki yang berubah. Tujuan awalnya tak jelas, lalu ia memutuskan pergi ke desa kecil di pegunungan tempat neneknya menghabiskan hidup.

Yang menarik, kepergian Elif bukan bentuk penelantaran. Ia tetap menghubungi Selim lewat panggilan video dan menjaga komunikasi dengan Mehmet. Mehmet pun mengambil peran sebagai orang tua sehari-hari. Ketika ayahnya sakit, Mehmet mengajak Selim merawat sang kakek, sekaligus menjalani perjalanan menemukan diri sebagai ayah dan anak.

Di perjalanan, Elif bertemu tiga perempuan soliter namun tidak kesepian. Keramahan mereka membuat Elif perlahan rileks. Wajah Karayel yang jernih memperlihatkan perubahan suasana hati seperti pola awan. Penonton diajak menyukai Elif hampir bersamaan dengan Elif mulai menyukai dirinya sendiri.

Sinematografer Kiril Prodanov menangkap lanskap Turki yang liar dan terpencil dengan detail memukau. Di sana Elif menemukan kembali inspirasinya. Dalam puisi yang ditulis menjelang akhir film—naskahnya disediakan penyair Turki Birhan Keskin—Elif menyebut Mehmet sebagai "gigiku yang bengkok, temanku", ungkapan syukur atas semua yang pernah mereka lalui, termasuk keputusan melepas.

"What Remains" menjadi manifesto tenang bahwa penerimaan diri adalah cinta utama. Tanpa itu, cinta kepada pasangan, anak, seni, dan sesama sulit benar-benar tumbuh. Dalam drama hubungan yang berimbang ini, Elif dan Mehmet sama-sama keluar lebih kuat. Ketika kita melepas sesuatu, kita juga membebaskan diri dari cengkeramannya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....