Sejarah Anak Gunung Krakatau, Lahir dari Reruntuhan Letusan Dahsyat 1883
- 06 Sep 2026 20:40 WIB
- Bandar Lampung
RRI.CO.ID, Bandarlampung - Gunung Anak Krakatau yang berada di perairan Selat Sunda memiliki sejarah panjang yang tidak terlepas dari letusan dahsyat Gunung Krakatau pada 1883. Gunung yang kini dikenal sebagai Anak Krakatau tersebut merupakan gunung api baru yang tumbuh di dalam kaldera bekas letusan Krakatau.
Melansir Global Volcanism Program (GVP) Smithsonian Institution, Gunung Krakatau berada di Selat Sunda, di antara Pulau Jawa dan Sumatra. Letusan besar pada 1883 menyebabkan sebagian besar tubuh Krakatau runtuh dan membentuk kaldera. Peristiwa tersebut menghasilkan aliran piroklastik, hujan abu, dan tsunami yang menimbulkan korban jiwa lebih dari 36 ribu orang.
Setelah letusan 1883, aktivitas vulkanik kembali muncul di kawasan kaldera. GVP mencatat erupsi bawah laut mulai teramati pada Desember 1927. Pada Januari 1928, material hasil erupsi mulai membentuk daratan baru yang kemudian berkembang menjadi Gunung Anak Krakatau.
Sementara itu, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat Anak Krakatau muncul dari kawasan kaldera yang terbentuk setelah letusan besar 1883. Gunung tersebut kemudian tumbuh secara bertahap akibat aktivitas erupsi yang terus berlangsung.
Nama Anak Krakatau sendiri menggambarkan posisinya sebagai gunung api baru yang tumbuh dari kawasan Krakatau. Menurut GVP, kerucut Anak Krakatau terbentuk di dalam kaldera 1883, tepatnya di antara lokasi bekas kerucut Danan dan Perbuwatan. Aktivitas erupsi telah berlangsung berulang kali sejak 1927.
Tragedi 1883
Letusan Krakatau 1883 menjadi salah satu peristiwa vulkanik paling terkenal dalam sejarah. US Geological Survey (USGS) mencatat, dalam rangkaian erupsi pada Agustus 1883, lebih dari 4 mil kubik material vulkanik terlontar dan lebih dari 36 ribu orang meninggal dunia. Tsunami menjadi salah satu penyebab utama banyaknya korban.
Dalam perkembangannya, Anak Krakatau juga mengalami sejumlah erupsi besar. Salah satu yang paling mematikan terjadi pada 22 Desember 2018, ketika sebagian tubuh gunung mengalami longsoran dan memicu tsunami di kawasan Selat Sunda.
Badan Geologi Kementerian ESDM mencatat peristiwa 2018 terjadi setelah aktivitas erupsi Anak Krakatau dan longsoran sebagian tubuh gunung, yang kemudian menimbulkan tsunami di kawasan Selat Sunda.
Kini, Anak Krakatau tetap menjadi salah satu gunung api aktif yang terus dipantau. Sejarah panjangnya menjadi pengingat bahwa aktivitas gunung api di Selat Sunda tidak hanya berkaitan dengan letusan, tetapi juga potensi bahaya lain seperti abu vulkanik, lontaran material, aliran piroklastik, dan tsunami.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....