Tupac Sering Bicara Kematian, Kini Terbukti Nyata
- 31 Agt 2026 13:35 WIB
- Bandar Lampung
Poin Utama
- Hampir tiga dekade setelah kematiannya, sosok yang diduga dalang pembunuhan Tupac Shakur akhirnya diadili di pengadilan.
- Tupac Shakur meramalkan kematiannya melalui lirik-lirik lagu dan berbagai wawancara yang diberikannya semasa hidup.
- Dalam wawancara dengan majalah Vibe setahun sebelum tewas di usia 25 tahun, Tupac menyatakan tidak takut mati dan percaya hidupnya ditakdirkan untuk menyelamatkan orang lain.
RRI.CO.ID, Bandar Lampung - Kematian Tupac Shakur kembali jadi sorotan publik. Hampir tiga dekade berlalu, sosok yang diduga menjadi dalang pembunuhan rapper legendaris itu akhirnya diadili di pengadilan. Namun yang membuat kasus ini semakin menghantui adalah kenyataan bahwa Tupac sendiri kerap meramalkan kematiannya lewat lirik-lirik lagu dan wawancara semasa hidup.
Dalam wawancara terkenal bersama majalah Vibe setahun sebelum tewas di usia 25 tahun, Tupac pernah berkata dirinya tidak takut mati. Ia hanya khawatir soal reinkarnasi, dan meyakini hidupnya ditakdirkan untuk menyelamatkan orang lain.
Sayangnya, tak ada yang mampu menyelamatkan Tupac. Ia tewas beberapa hari setelah mobil yang ditumpanginya bersama pendiri Death Row Records, Marion "Suge" Knight, diberondong peluru di dekat Las Vegas Strip pada 7 September 1996, tak lama setelah pertandingan tinju Mike Tyson di MGM Grand.
Sidang yang Ditunggu Hampir 30 Tahun
Duane "Keffe D" Davis, 63 tahun, kini diadili sebagai dalang pembunuhan tersebut. Jaksa tidak menuduhnya sebagai penembak langsung, melainkan orang yang mengatur penyergapan dari dalam mobil Cadillac putih yang mendekati BMW Tupac. Motifnya diduga sebagai balas dendam atas penyerangan terhadap keponakannya, Orlando Anderson, di MGM Grand.
Kasus ini banyak bersandar pada pengakuan Davis sendiri, yang pernah bicara terbuka soal keterlibatannya dalam berbagai wawancara, podcast, hingga buku memoar yang ia tulis. Kini Davis mengaku tidak bersalah dan membantah semua pernyataan sebelumnya, bahkan mengklaim tidak berada di Las Vegas malam kejadian. Pengacaranya berdalih pernyataan kliennya hanyalah gaya bicara khas rapper yang suka melebih-lebihkan demi mempromosikan buku.
Lirik yang Seolah Jadi Ramalan
Sepanjang kariernya, Tupac dikenal kerap menuliskan tema kematian dalam lagu-lagunya. Dalam "Smile", ia berharap pemakamannya dirayakan layaknya pesta. Sementara di "Thugz Mansion" yang dirilis usai kematiannya, ia membayangkan menenangkan sang ibu dari surga.
Menurut saudara tirinya, Mopreme Shakur, ada semacam "nyanyian kematian" yang terus muncul dalam karya-karya Tupac, mencerminkan kegelisahan banyak pemuda kulit hitam pada masanya yang hidup berdampingan dengan kekerasan dan bayang-bayang kematian dini.
Penembakan yang Mengubah Segalanya
Sebelum insiden fatal di Las Vegas, Tupac sempat lolos dari maut saat ditembak berkali-kali dalam perampokan di Quad Recording Studios, New York, pada November 1994. Peristiwa itu memicu rivalitas besar antara rapper Pantai Timur dan Pantai Barat, yang diyakini banyak pihak berujung pada pembunuhannya kelak.
Tupac sempat menaruh curiga bahwa produser Sean "Puffy" Combs dan rapper Notorious B.I.G. terlibat dalam penyerangan tersebut, meski keduanya membantah keras tudingan itu.
Situasi semakin rumit setelah Tupac dijatuhi hukuman kasus pelecehan seksual dan harus mendekam di penjara. Suge Knight kemudian membayar uang jaminannya dan merekrutnya ke Death Row Records, langkah yang justru memperuncing perseteruan dengan kubu Bad Boy Records di New York.
Waktu untuk Merenung di Balik Jeruji
Selama di penjara, Tupac mengaku mendapat banyak waktu untuk berpikir tentang hidupnya. Dalam wawancara dengan CNN pada 1995, ia menggambarkan masa itu seperti berada dalam koma namun tetap sadar memikirkan segalanya.
Dibesarkan dalam kemiskinan oleh sang ibu, mantan aktivis Black Panther Afeni Shakur, Tupac memang tak pernah jauh dari masalah hukum sepanjang hidupnya yang singkat.
Tiga Dekade Berlalu, Luka Belum Sepenuhnya Sembuh
Meski persidangan ini bisa mengungkap siapa dalang di balik pembunuhan Tupac, pertanyaan soal siapa penembak sebenarnya kemungkinan tetap menjadi misteri. Banyak pihak yang diduga terlibat kini telah meninggal dunia.
Bagi keluarga Tupac, proses persidangan ini terasa berat secara emosional. Mopreme Shakur dan adik Tupac, Sekyiwa Shakur, tampak hadir di ruang sidang sejak awal, meski memilih keluar saat jaksa menampilkan foto-foto hasil autopsi yang mengerikan.
Apa pun hasil akhir persidangan ini, sosok Tupac Shakur tetap akan dikenang sebagai musisi yang seolah meramalkan kematiannya sendiri lewat karya-karyanya. Baginya, setiap lirik yang ia tulis adalah bentuk keyakinan pada takdir dan karma — sebuah filosofi hidup yang hingga kini masih terus diperbincangkan publik dunia.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....