Circle Positif Tingkatkan Kualitas Hidup Remaja Sehari-hari

  • 31 Jul 2026 20:12 WIB
  •  Bandar Lampung
Poin Utama
  • Lingkungan pertemanan atau circle memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan remaja, meliputi pola pikir, kebiasaan, kesehatan mental, dan keputusan penting dalam hidup.
  • Remaja berada pada fase pencarian jati diri sehingga lebih banyak menghabiskan waktu bersama teman sebaya dibandingkan dengan keluarga.
  • Memilih circle yang positif menjadi langkah penting untuk membangun kualitas hidup yang lebih baik di fase remaja.

RRI.CO.ID, Bandarlampung - Lingkungan pertemanan atau circle memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan remaja, mulai dari pola pikir, kebiasaan, kesehatan mental, hingga keputusan penting dalam hidup. Karena itu, memilih circle yang positif menjadi salah satu langkah penting untuk membangun kualitas hidup yang lebih baik.

Psikolog Keluarga, Pernikahan, Anak, dan Remaja, Dr. Diah Utaminingsih, mengatakan remaja berada pada fase pencarian jati diri sehingga lebih banyak menghabiskan waktu bersama teman sebaya dibandingkan keluarga. Kondisi tersebut membuat pengaruh lingkungan pertemanan menjadi sangat kuat dalam membentuk karakter maupun perilaku seseorang.

"Circle yang sehat adalah kelompok pertemanan yang memberikan rasa aman atau psychological safety, saling menghargai, saling mendukung pertumbuhan, serta mampu menerima perbedaan tanpa menghilangkan identitas masing-masing," ujar Diah dalam Dialog SPADA Pro 2 RRI Bandarlampung bertema Hari Persahabatan Internasional: Circle Positif, Hidup Lebih Berkualitas, Kamis, 30 juli 2026.

Menurutnya, remaja tidak perlu membatasi diri hanya pada satu kelompok pertemanan. Berinteraksi dengan berbagai komunitas justru membantu memperluas wawasan, meningkatkan kemampuan beradaptasi, sekaligus membangun jejaring sosial yang bermanfaat ketika memasuki dunia kerja. Dengan cara tersebut, seseorang juga tidak akan bergantung pada satu circle tertentu.

Diah menjelaskan setiap individu memiliki kebutuhan dasar untuk diterima dalam kelompok. Perasaan diterima membuat seseorang merasa nyaman, sementara ketakutan ditolak sering kali membuat remaja enggan mencoba bergabung dengan lingkungan baru. Kondisi tersebut dapat memicu rasa minder, kehilangan kepercayaan diri, hingga munculnya rasa insecure.

Ia menambahkan, circle yang sehat juga ditandai dengan kemampuan memberikan dukungan ketika anggota kelompok menghadapi masalah. Teman yang baik akan membantu mencari solusi, ikut bangga atas keberhasilan sahabatnya, serta tidak menjadikan pencapaian orang lain sebagai alasan untuk iri atau menjatuhkan.

"Kalau teman kita punya bakat atau berhasil, tugas kita mendorong dan ikut senang. Bukan merasa tersaingi atau justru meremehkan keberhasilannya," kata Diah.

Selain itu, Diah mengingatkan pentingnya menghargai batasan pribadi dalam sebuah pertemanan. Kedekatan tidak boleh menjadi alasan untuk memaksakan kehendak, melanggar privasi, ataupun membuat seseorang merasa tertekan. Hubungan yang sehat justru dibangun melalui komunikasi yang terbuka, saling menghormati, serta nilai-nilai positif yang sejalan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....