Trump di WHCD: Pidato Aneh yang Tak Lucu

  • 27 Jul 2026 11:33 WIB
  •  Bandar Lampung
Poin Utama
  • Donald Trump tampil di White House Correspondents' Dinner 2026 susulan pada Jumat, 25 Juli dengan penampilan yang terlihat gugup dan gamang.
  • Acara ini merupakan susulan dari WHCD April 2026 yang terganggu oleh insiden penembakan di Washington Hilton.
  • Pertanyaan pembuka Trump kepada audiens tidak mendapat respons tawa, menunjukkan perbedaan signifikan dari penampilan dominannya di acara-acara sebelumnya.

RRI.CO.ID, Bandar Lampung - Malam itu, Donald Trump naik podium dengan satu pertanyaan aneh di bibirnya sendiri: "Apakah saya harus jadi komedian?" Sayangnya, tidak ada yang tertawa — dan itulah masalahnya.

Presiden Amerika Serikat tersebut tampil dalam versi susulan White House Correspondents' Dinner (WHCD) 2026 pada Jumat, 25 Juli waktu setempat, setelah acara serupa di bulan April sempat terganggu insiden penembakan di Washington Hilton. Namun alih-alih tampil dominan seperti biasanya, Trump justru terlihat gamang, gugup, dan kehilangan arah.

Pidatonya bukan "the weave" — istilah yang biasa ia gunakan untuk menggambarkan gaya bicaranya yang mengalir bebas — melainkan sekadar runtutan keluhan. Ia menyerang wartawan CNN Kaitlan Collins dan Josh Dawsey dari Wall Street Journal secara langsung. Ia mempertanyakan mengapa ia tidak punya suara dalam penentuan penghargaan malam itu. Ia mengulangi keluhan lama soal rating Oscars, permusuhannya dengan Chris Christie, Bruce Springsteen, dan Jane Fonda.

Semua itu sudah pernah kita dengar sebelumnya.

Tingkat persetujuan publik yang terus merosot menjadi salah satu topik yang ia singgung — bukan dengan percaya diri, melainkan dengan nada defensif. Di tengah tekanan inflasi dan perang yang tidak populer di Iran, publik Amerika tampaknya sudah bosan. Dan Trump, yang lebih dari politisi mana pun dalam sejarah Amerika, menjadikan hasrat untuk disukai sebagai inti dari identitas publiknya, tampaknya merasakan betul dinginnya jarak itu.

Yang paling menyedihkan bukan kemarahannya terhadap pers, bukan pula leluconnya yang gagal mendapat tawa. Yang paling menyedihkan adalah ia kini hanya mampu berputar di tempat yang sama — mengulang pertarungan lama, meratapi piala yang tak pernah ia menangkan, dan mengancam secara bercanda untuk maju lagi di Pilpres 2028, meski Konstitusi melarangnya.

Penampilannya malam itu bukan pidato seorang presiden yang percaya diri. Itu adalah cermin dari seorang tokoh publik yang, untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, tampak tidak yakin bahwa dunia masih menontonnya dengan kagum.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....