Tren "Nostalgia Tech": Berburu Pemutar CD Portabel demi Menikmati Rilisan Fisik

  • 22 Jun 2026 04:29 WIB
  •  Bandar Lampung

RRI.CO.ID, Bandarlampung - Di tengah kemudahan akses streaming musik digital yang tanpa batas, saat ini justru mencatat kebangkitan tak terduga dari pemutar CD portabel (discman) di kalangan remaja urban. Anak muda berbondong-bondong berburu perangkat pemutar musik era 90-an tersebut di pasar loak daring maupun toko elektronik antik. Tren ini berkelanjutan dari demam piringan hitam dan kaset pita, di mana generasi muda saat ini merindukan sensasi memegang fisik album musik dan membaca lembaran buklet lirik di dalamnya secara nyata.

Bagi banyak remaja, proses memasukkan kepingan cakram padat ke dalam pemutar musik dan mendengarkan urutan lagu dari awal hingga akhir tanpa interupsi iklan atau algoritma memberikan pengalaman seni yang sakral. Mereka menganggap bahwa kualitas audio dari CD jauh lebih jernih dan memiliki dinamika suara yang lebih kaya dibandingkan format kompresi digital di aplikasi ponsel pintar. Hobi ini merubah cara pandang mereka dalam mengapresiasi karya musisi secara utuh sebagai satu kesatuan konsep seni visual dan audio.

Melonjaknya permintaan ini mendorong para musisi independen lokal untuk kembali merilis karya terbaru mereka dalam format cakram padat dengan desain kemasan yang sangat kolektif dan estetik. Toko-toko musik independen kecil kembali bergairah dan menjadi titik kumpul baru bagi remaja untuk bertukar informasi atau berburu CD langka rilisan lawas. Tren ini juga melahirkan komunitas kolektor muda yang rutin mengadakan acara dengar bersama (listening party) menggunakan perangkat audio jadul di kafe-kafe kota.

Meskipun perawatan perangkat analog ini membutuhkan ketelitian ekstra karena komponen optik pembaca laser yang sensitif terhadap debu, hal tersebut tidak menyurutkan minat para pencinta musik muda. Hobi "Nostalgia Tech" ini menjadi bukti bahwa kepuasan sensorik dari benda fisik tetap memiliki ruang tersendiri yang tidak bisa sepenuhnya digantikan oleh kemudahan dunia virtual. Anak muda membuktikan bahwa menghargai sebuah mahakarya musik membutuhkan waktu dan proses fisik yang nyata.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....