Fenomena FOMO: Takut Ketinggalan atau Terlalu Terpengaruh?
- 30 Apr 2026 16:03 WIB
- Bandar Lampung
RRI.CO.ID, Bandar Lampung - FOMO, atau Fear of Missing Out, adalah perasaan takut ketinggalan sesuatu yang dianggap penting, seru, atau berharga. Fenomena ini semakin sering dirasakan di era digital, terutama ketika kehidupan orang lain begitu mudah terlihat melalui media sosial. Tanpa sadar, kita mulai membandingkan apa yang kita jalani dengan apa yang ditampilkan orang lain.
Perasaan FOMO biasanya muncul saat melihat teman sedang liburan, menghadiri acara, atau mencapai sesuatu. Pikiran seperti “aku harusnya ada di sana” atau “kenapa aku tidak melakukan itu juga” mulai muncul. Padahal, yang kita lihat hanyalah potongan terbaik dari kehidupan seseorang, bukan keseluruhan cerita.
Salah satu faktor terbesar yang memicu FOMO adalah paparan media sosial yang terus-menerus. Platform seperti Instagram dan TikTok dipenuhi konten yang dikemas menarik dan sering kali terlihat sempurna. Hal ini membuat standar kebahagiaan terasa lebih tinggi dan sulit dicapai.
Di satu sisi, FOMO bisa menjadi dorongan positif. Rasa takut tertinggal kadang memotivasi seseorang untuk mencoba hal baru, lebih aktif, atau keluar dari zona nyaman. Namun di sisi lain, jika tidak dikendalikan, FOMO bisa membuat seseorang merasa tidak puas dengan hidupnya sendiri.
Perasaan ini juga bisa membuat kita terlalu terpengaruh oleh keputusan orang lain. Kita jadi melakukan sesuatu bukan karena benar-benar ingin, tapi karena tidak ingin merasa tertinggal. Akibatnya, keputusan yang diambil kurang sesuai dengan kebutuhan atau kondisi diri sendiri.
Selain itu, FOMO sering kali berkaitan dengan kecemasan dan tekanan sosial. Keinginan untuk selalu “update” dan mengikuti tren bisa melelahkan, baik secara mental maupun emosional. Kita jadi sulit menikmati momen yang sedang dijalani karena pikiran terus membandingkan dengan hal lain.
Mengatasi FOMO bukan berarti harus menjauh sepenuhnya dari media sosial, tapi lebih kepada mengubah cara kita memandangnya. Menyadari bahwa tidak semua hal perlu diikuti adalah langkah awal yang penting. Setiap orang punya waktu dan jalannya masing-masing.
Membatasi waktu penggunaan media sosial juga bisa membantu. Dengan mengurangi paparan, kita memberi ruang bagi diri sendiri untuk fokus pada apa yang benar-benar penting. Selain itu, melatih rasa syukur terhadap apa yang dimiliki saat ini bisa menjadi cara sederhana untuk menyeimbangkan perasaan.
Pada akhirnya, FOMO bukan hanya tentang takut ketinggalan, tapi juga tentang bagaimana kita memaknai kehidupan. Ketika kita mulai lebih fokus pada diri sendiri daripada orang lain, rasa cukup akan perlahan muncul, dan tekanan untuk selalu mengikuti menjadi berkurang.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....