David Gadgetin Ungkap Titik Balik di Usia 30

  • 31 Mar 2026 11:43 WIB
  •  Bandar Lampung

RRI.CO.ID, Bandar Lampung - Podcast Raditya Dika kembali menghadirkan reuni spesial bersama David Gadgetin (David Brendi) setelah tiga tahun berpisah di layar. Dalam perbincangan yang hangat sekaligus inspiratif ini, David mengungkap berbagai perubahan besar dalam hidup dan kariernya, mulai dari manajemen studio hingga titik balik kesehatannya.

Salah satu momen paling mengejutkan yang diceritakan David adalah saat menjalani Medical Check-Up (MCU) di usia 30 tahun. Hasil awal menunjukkan sejumlah marker kesehatan yang mengkhawatirkan dan biasanya hanya ditemukan pada lansia. Meskipun pemeriksaan lanjutan seperti MRI membawa kabar lega, pengalaman tersebut menjadi peringatan keras baginya untuk tidak lagi bekerja dengan cara “ngebut” dan mulai menghargai waktu.

Kalau gue terlalu ngebut terus nge-crash, udah dong, selesai dong. Gue jadi mikir, kayaknya nggak bagus kalau terlalu mikirin kerjaan doang karena udah dikasih warning,” ujar David.

Dari sisi profesional, David menceritakan perkembangan kanal Gadgetin yang kini telah pindah ke studio baru seluas 120 meter persegi, terpisah dari tempat tinggal pribadinya. Meski timnya kecil—hanya berempat—ia masih mempertahankan karyawan pertamanya, Iqbal. Sebagai kreator, ia mengaku tetap menulis sendiri skrip dan menjadi host video karena merasa narasi adalah tanggung jawab penuh yang tidak bisa dilimpahkan.

Gua merasa semua yang ditampilin di Gadgetin adalah tanggung jawab gua. Gua menikmati nulis skripnya selama memang barangnya bagus,” tegas David.

Dalam podcast tersebut, keduanya juga menjajal berbagai fitur anyar dari Samsung Galaxy S26 Ultra, seperti Privacy Display yang melindungi layar dari intipan orang di samping, Horizontal Lockuntuk stabilitas video, hingga kecerdasan buatan Galaxy AI yang dinilai kini menjadi asisten produktivitas yang sesungguhnya.

Tak hanya soal teknologi, diskusi melebar ke filosofi hidup, investasi, hingga hobi catur. Raditya Dika bercerita tentang pengalamannya menghadiri pertemuan tahunan Warren Buffett di Omaha, sementara David berbagi pandangan tentang pentingnya keluarga. Mereka sepakat bahwa kecerdasan buatan hanya boleh berperan sebagai asisten, bukan pengganti sentuhan manusia.

Menutup pembicaraan, David menyampaikan refleksi menarik tentang rasa syukur dan keberanian. Ia mengaku tidak takut jika kariernya menurun karena dulu ia mampu bertahan hidup di Jakarta hanya dengan modal Rp800 ribu per bulan. Sementara Raditya mengenang bagaimana buku harian bergembok miliknya menjadi awal mula perjalanan menulis yang mengubah hidupnya.

Buku diary gue dulu yang pakai gembok adalah yang memulai semuanya. Itu pertama kalinya gua menulis untuk dibaca orang dan mencoba mempengaruhi perasaan orang lewat tulisan,” kenang Raditya Dika.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....