Kadam Sidik Ungkap Bahaya Popularitas bagi Pendakwah
- 30 Mar 2026 14:46 WIB
- Bandar Lampung
RRI.CO.ID, Bandar Lampung - Kadam Sidik, yang dikenal luas melalui konten dakwah kreatif di TikTok, mengungkap perjalanan spiritual dan intelektualnya dalam sebuah podcast bersama Raditya Dika. Dalam obrolan mendalam tersebut, Kadam menyoroti sisi gelap dari ketenaran yang jarang dibicarakan.
Awalnya, pria yang tumbuh di lingkungan pesantren ini tidak bercita-cita menjadi pendakwah. Ia justru terinspirasi oleh komedian seperti Raditya Dika dan Panji Pragiwaksono. Sebelum dikenal sebagai penggagas konten keagamaan yang kreatif, Kadam sempat mencoba peruntungan di dunia komedi sketsa dan beatbox. Niatnya untuk berdakwah mulai muncul sejak kelas 12 SMA, dimulai dengan unggahan sederhana di Story WhatsApp yang ia sembunyikan dari keluarganya karena rasa malu.
Nama "Kadam Sidik" sendiri bukan sekadar alias, melainkan simbol transformasi yang ia gunakan sejak Maret 2023. Nama yang berarti "orang yang terdahulu dalam kebaikan" itu menjadi penanda babak baru setelah ia meninggalkan masa lalu yang ia sebut penuh hura-hura.
Keunikan Kadam terletak pada kemampuannya menyisipkan analogi budaya pop, seperti anime Naruto dan Tokyo Ghoul, untuk menjelaskan konsep-konsep agama seperti sanad keilmuan. Pendekatan ini dinilai efektif menjangkau generasi Z. Namun, langkah awalnya tidak mulus. Ia sempat dikritik karena memilih TikTok sebagai media dakwah, yang kala itu dianggap sebagai platform yang kurang serius.
Memasuki puncak popularitas dengan jutaan pengikut, Kadam justru merasakan kekosongan batin. Ia mengakui sempat terjangkit star syndrome atau merasa lebih hebat karena ketenaran. Kesadarannya kembali terbangun setelah mendapat nasihat tegas dari gurunya, Buya Yahya, yang mengingatkan bahwa "popularitas bagi seorang penuntut ilmu adalah bahaya paling nyata." Nasihat itu membuat Kadam memilih untuk kembali fokus pada pendidikan dan saat ini tengah menempuh pendidikan magister.
Dalam podcast tersebut, Kadam juga menyoroti fenomena religious trauma di kalangan anak muda yang kerap menjauhi agama akibat pengalaman pahit dengan lingkungan yang mengatasnamakan Tuhan. Ia berusaha menghadirkan sisi agama yang penuh kasih sayang.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya menghormati kepakaran. Kadam mengimbau publik untuk mengecek latar belakang pendidikan seorang kreator sebelum mempercayai konten keagamaan atau kesehatan. Mengikuti jejak ulama terdahulu, ia tak pernah ragu untuk mengatakan "tidak tahu" jika mendapatkan pertanyaan yang diragukan jawabannya.
Di sisi personal, baik Kadam maupun Raditya Dika mengaku memiliki kepribadian introvert. Kadam bahkan mengungkapkan kebiasaannya meminta teman meninggalkan ruangan sejenak hanya untuk memulihkan energinya.
Podcast ini pun ditutup dengan sederet pesan mendalam, mulai dari keikhlasan dalam berdakwah hingga pengakuan bahwa "overthinking" adalah syarat yang kerap dimiliki oleh orang-orang hebat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....