Dokter Tirta Curhat Pengalaman Traumatis hingga Tips Rambut

  • 30 Mar 2026 14:21 WIB
  •  Bandar Lampung

RRI.CO.ID, Bandar Lampung - Dalam sebuah podcast terbaru, Raditya Dika berbincang santai namun mendalam dengan Dokter Tirta. Percakapan yang dimulai dari tren busana dan perawatan rambut ini berkembang menjadi cerita reflektif tentang pengalaman sang dokter sebagai tenaga medis.

Dokter Tirta mengawali obrolan dengan menceritakan transformasi penampilannya. Ia mengaku pernah melalui fase "jamet" dengan rambut berwarna hijau dan pink yang terinspirasi dari karakter Joker. Namun, pewarnaan ekstrem itu justru merusak kesehatan rambutnya. Kini, ia lebih fokus merawat kulit kepala sebagai bentuk investasi diri.

Sebagai dokter, Tirta pun membagikan sejumlah tips perawatan rambut bagi pria, terutama yang aktif di luar ruangan. Ia mengingatkan agar tidak menggaruk kulit kepala dengan kuku saat keramas karena dapat menyebabkan luka dan infeksi. Selain itu, kebersihan helm bagi pengendara motor juga penting karena rambut lembap di dalam helm bisa menjadi sarang bakteri. Ia juga menyarankan untuk tidak tidur dalam kondisi rambut basah karena memicu pertumbuhan jamur dan ketombe.

Di balik gaya bicaranya yang "ngegas", Dokter Tirta mengaku sifat tegas itu muncul karena ia kerap menemui pasien yang lebih percaya pada Google dibanding saran medis. Bahkan, ia pernah menegur keras pasien hipertensi yang tidak rutin minum obat dengan kalimat lugas agar mereka sadar akan risiko kematian.

Bagian paling emosional dari podcast itu adalah ketika Dokter Tirta mengenang pengalaman traumatisnya saat masih koas. Ia menceritakan momen ketika harus menyampaikan kabar duka kepada seorang suami yang istrinya meninggal akibat pendarahan usai melahirkan. Ia juga mengaku terpukul karena gagal menyelamatkan bayi yang meninggal akibat kejang demam tinggi. Ucapan terima kasih dari orang tua bayi itu justru membuatnya tidak bisa tidur selama dua hari.

Selain itu, Tirta juga berbagi cerita soal tato. Ia sempat mencoba menghapus tato karena tinta tersebut menghalangi sensor detak jantung pada jam tangannya saat berlari. Ia mengingatkan bahwa proses menato hanya butuh hitungan jam, tetapi menghapusnya memakan waktu berbulan-bulan dengan biaya besar dan rasa sakit yang tidak ringan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....