Trauma Masa Kecil hingga ADHD
- 30 Mar 2026 12:48 WIB
- Bandar Lampung
RRI.CO.ID, Bandar Lampung - Diskusi menarik antara Raditya Dika dan dr. Jiemi Ardian, seorang psikiater, yang membahas keterkaitan erat antara trauma, memori, dan pola asuh masa kecil. Percakapan ini mengungkap sejumlah fakta mengejutkan tentang bagaimana otak bekerja serta cara-cara sederhana untuk menjaga kesehatan mental.
dr. Jiemi menjelaskan bahwa banyak komedian atau penulis rentan mengalami kesedihan karena memiliki kemampuan introspektif tinggi namun tidak dibekali kemampuan untuk tetap berpijak pada realitas (grounded). Akibatnya, mereka mudah tenggelam dalam pikirannya sendiri. Komedi, menurutnya, kerap menjadi mekanisme koping untuk menertawakan rasa sakit, meski tidak serta-merta menyembuhkan.
Dalam sesi tersebut, dr. Jiemi juga memaparkan dua mode kerja otak, yaitu top-down (berbasis prediksi atau asumsi) dan bottom-up (berbasis input indrawi dari realitas). Masalah muncul ketika seseorang terlalu didominasi oleh prediksi—seperti kecemasan akan masa depan atau bayang-bayang masa lalu—hingga mengabaikan kenyataan yang terjadi saat ini.
Tidak hanya itu, fenomena media sosial disebut memperparah ketidakbahagiaan. Otak secara otomatis membandingkan diri dengan pencapaian orang lain yang tampak di layar. dr. Jiemi menyarankan agar masyarakat melakukan "eksperimen" kecil dengan memberi kesempatan pada realitas untuk membuktikan apakah asumsi buruk yang dimiliki benar atau tidak.
Mengenai tren diagnosis diri sendiri, termasuk menggunakan kecerdasan buatan (AI), dr. Jiemi menegaskan bahwa gangguan seperti ADHD merupakan variasi neurodiversitas yang muncul sejak kecil. Sulit fokus belum tentu berarti ADHD, karena bisa disebabkan oleh depresi, trauma, atau gaya hidup tidak sehat. Karena itu, diagnosis profesional tetap tidak bisa digantikan.
Lebih lanjut, dr. Jiemi yang tengah menempuh studi PhD tentang trauma menjelaskan bahwa 99 persen trauma berasal dari memori. Trauma terjadi ketika seseorang menyematkan makna negatif pada suatu kejadian yang mengagetkan. Menariknya, trauma bisa muncul dalam bentuk perilaku obsesif, seperti mencuci tangan berulang kali, yang merupakan upaya bawah sadar untuk mendapatkan kembali kendali atas hidup.
Sebagai tips bagi orang tua, dr. Jiemi menekankan pentingnya membacakan buku cerita kepada anak. Kebiasaan ini melatih otak anak untuk melihat sebuah kejadian dari berbagai sudut pandang dan belajar memberi makna terhadap hidup. Fondasi ini penting agar anak tidak terjebak dalam narasi diri yang buruk di masa depan.
Bagi mereka yang memiliki teman dengan pengalaman traumatis, dr. Jiemi mengingatkan agar bertindak sesuai kapasitas sebagai teman, bukan terapis. Tugas utama adalah menemani dan memvalidasi perasaan, karena kesembuhan sejati berasal dari keberanian diri sendiri untuk memproses ulang memori tersebut.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....