Dari Rumah Kontrakan Hingga Dibeli Raksasa Esports

  • 30 Mar 2026 09:01 WIB
  •  Bandar Lampung

RRI.CO.ID, Bandar Lampung - Perjalanan membangun tim esports kelas dunia ternyata tidak selalu dimulai dari gedung megah dan fasilitas mewah. Hal ini terungkap dalam podcast Raditya Dika bersama Daniel Santoso, Chief Business Officer Team Liquid untuk wilayah Indonesia dan Filipina.

Daniel menceritakan awal mula dirinya mendirikan Aura Esports pada tahun 2018. Berawal dari hobi bermain game sejak kecil, ia mengelola tim secara mandiri atau bootstrap menggunakan dana pribadi. Awalnya, mereka menyewa sebuah rumah kecil yang dijadikan gaming house (GH) untuk menampung 20 pemain pria. Tantangan pun datang, mulai dari masalah kebersihan hingga sulitnya merekrut staf karena kondisi kantor yang masih berupa rumah kontrakan.

Untuk bersaing dengan tim-tim besar, Daniel menerapkan strategi unik, seperti merekrut pemain yang juga berprofesi sebagai influencer atau YouTuber besar, serta menerapkan sistem kompetisi internal yang ketat.

Kesuksesan tersebut membawa Aura Esports ke panggung yang lebih besar. Daniel mengungkapkan bahwa Indonesia merupakan negara dengan jumlah penonton esports, khususnya Mobile Legends, terbesar kedua di dunia. Hal ini menjadi daya tarik utama bagi Team Liquid, organisasi esports raksasa dunia, untuk mengakuisisi timnya.

“Saya dari kecil nontonnya selalu di US, Europe… Indonesia enggak begitu besar. Tapi pas saya dengar Mobile Legends mungkin bisa dimainkan, saya langsung terjun ke situ,” ujar Daniel.

Salah satu poin menarik yang dibahas adalah perbedaan budaya esports antara Indonesia dan Filipina. Daniel mencatat, di Filipina, menjadi pemain pro lebih diterima karena dianggap bisa membantu ekonomi keluarga, sementara di Indonesia, orang tua cenderung lebih menekankan pendidikan formal. Perbedaan ini turut membentuk motivasi dan mindset para pemain.

Dalam podcast tersebut, Daniel juga membuka fakta tentang realita bisnis esports. Sumber pendapatan utama tim bukanlah dari hadiah turnamen, melainkan dari sponsor. Ia juga menyoroti singkatnya masa keemasan atlet esports, yang biasanya hanya berada di rentang usia 17 hingga 19 tahun. Setelah bergabung dengan Team Liquid, manajemen menjadi lebih profesional dengan menghadirkan psikolog untuk menjaga mental pemain serta fasilitas latihan yang lengkap.

Menariknya, Daniel menekankan pentingnya atlet mempersiapkan masa depan sejak dini. Ia selalu menasihati para pemainnya untuk mulai membuat konten sejak masih aktif bertanding, bukan menunggu hingga karier bermain mereka usai.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....