Overthinking Jadi Ayah, Indra Jegel Ungkap Ketakutan Terbesarnya

  • 28 Feb 2026 12:39 WIB
  •  Bandar Lampung

RRI.CO.ID, Bandar Lampung - Podcast milik Raditya Dika yang bertajuk "Indra Jegel Overthinking Jadi Bapak" baru-baru ini menyedot perhatian warganet. Dalam obrolan ringan namun penuh makna tersebut, kedua komedian itu membahas secara blak-blakan tentang kegelisahan mereka sebagai seorang ayah di era modern.

Topik utama yang menjadi sorotan adalah perasaan overthinking menjadi seorang ayah. Radit mengungkapkan ketakutannya yang paling dalam sebagai orang tua. Ia khawatir tidak mampu mengidentifikasi bakat serta memfasilitasi kedua buah hatinya, Alea dan Aksara, untuk meraih potensi maksimal mereka. "Gua sangat takut gua tidak bisa membantu Alea sama Aca mencapai potensi terbaik dia. Gua takut potensi dia sia-sia karena gua enggak bisa bantu mereka nyampai itu," ujar Radit.

Dari kegelisahan itu, Radit dan Indra Jegel berdiskusi lebih jauh mengenai dilema antara minat dan potensi anak. Radit mencontohkan putranya, Aksara, yang mahir bermain basket namun terkadang terlihat malas. Hal ini membuatnya bingung antara terus mendorong sang anak karena terlihat berbakat, atau membiarkannya karena minat yang mulai berkurang. Sebagai kesimpulan sementara, Radit menilai fokus pada minat anak adalah langkah awal yang lebih baik karena akan memicu rasa penasaran dan kegigihan secara alami.

Lebih dalam, Radit membagikan perspektifnya tentang membangun fondasi karakter anak sejak dini. Terinspirasi dari buku "Thrivers" yang dibacanya, ia menekankan pentingnya fondasi internal seperti empati dan growth mindset (kesadaran untuk terus belajar). Fondasi ini dinilai vital karena lingkungan luar seperti pertemanan dan karier masa depan berada di luar kendali orang tua. "Realita hidup itu lu akan dikecewakan oleh banyak orang, jadi lu harus bisa punya respon terhadap ketika kekecewaannya datang," pesan Radit.

Senada dengan Radit, Indra Jegel berbagi pengalaman emosionalnya saat pertama kali mengajak keluarga liburan ke Jepang. Meski sempat ragu karena biaya, momen ketika melihat kebahagiaan istri dan anaknya saat melihat salju pertama kali menjadi kenangan yang tak ternilai harganya. "Itu (melihat kebahagiaan anak dan istri) yang enggak bisa kebayar sih sebenarnya," ucap Indra Jegel penuh haru.

Keduanya sepakat bahwa investasi terbaik yang bisa diberikan orang tua bukan hanya materi, melainkan juga waktu berkualitas dan "bank memori" yang indah bagi anak-anak mereka. Sebab, seperti disampaikan Raditya Dika, waktu orang tua bersama anak sangatlah terbatas. "Lu cuma dikasih waktu untuk jadi temannya dia sampai umur 17, habis itu dia sama teman-temannya yang lain. Dia itu hanya jadi punya lu 100% sampai umur 13," pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....