Ferry Irwandi Ungkap Kebiasaan Tidur 3 Jam Sehari
- 28 Feb 2026 12:02 WIB
- Bandar Lampung
RRI.CO.ID, Bandar Lampung - Podcaster Raditya Dika baru-baru ini menghadirikan sosok penulis buku "Prinsip Ekonomi", Ferry Irwandi, dalam siniar (podcast) terbarunya. Perbincangan santai namun mendalam itu mengupas tuntas kebiasaan hidup, kesehatan, hingga strategi bisnis buku yang inspiratif.
Dalam podcast yang mengudara beberapa waktu lalu, Raditya Dika menggali kebiasaan unik Ferry Irwandi yang hanya tidur 2-3 jam per hari. Ferry mengakui hal ini memberinya waktu lebih untuk produktif, seperti menulis buku. Namun di balik produktivitasnya, ia menyimpan masalah kesehatan serius.
"Saya punya kelebihan dari orang lain, yaitu waktu kosong lebih banyak untuk kerjakan sesuatu," ujar Ferry. Meski tubuhnya telah beradaptasi, ia didiagnosis menderita kardiomiopati, yaitu penebalan dinding jantung akibat faktor keturunan. Kondisinya diperparah oleh visceral fat atau lemak perut. Kini, ia rutin berolahraga ringan, minum obat aritmia, dan mulai mengurangi rokok untuk menjaga kesehatannya.
Perbincangan kemudian beralih ke dunia literasi dan bisnis buku. Ferry yang terinspirasi Raditya Dika, akhirnya mendirikan penerbit sendiri dan meluncurkan buku "Prinsip Ekonomi". Dalam waktu 40 hari, buku tersebut berhasil terjual lebih dari 20.000 eksemplar. Buku ini menyajikan konsep ekonomi seperti scarcity dan opportunity cost dengan bahasa yang ringan dan ilustrasi buatan sendiri, tanpa gimmick.
"Ekonomi itu bukan ilmu keuangan. Ilmu yang tercipta karena manusia perlu menentukan pilihan terbaik dalam hidupnya," jelas Ferry tentang isi bukunya yang menargetkan pembaca awam hingga tingkat lanjut.
Keduanya juga menyoroti rendahnya tingkat literasi dan budaya membaca di Indonesia. Raditya mengaku bingung dengan pertanyaan "bagaimana cara mulai membaca buku?" yang kerap dilontarkan banyak orang. Ia pun menyarankan pemanfaatan perpustakaan digital.
"Bayangkan, orang Indonesia itu terbatas. Ada namanya scarcity," kritik Ferry mencontohkan konsep ekonomi yang belum dipahami banyak orang. Menurutnya, faktor pendidikan hafalan dan hiburan berlebih membuat buku sering dikaitkan dengan beban pelajaran. Ia berharap bukunya bisa menjadi gerbang bagi generasi muda untuk gemar membaca.
Terakhir, Raditya bertanya tentang sumber motivasi berkarya. Ferry mengaku mudah kagum, namun motivasi terbesarnya datang dari keinginan untuk mengubah pemikiran yang "mengganggu" menjadi sebuah materi, bukan karena persaingan. "Saya lebih suka membedah cara bagus dari karya orang lain untuk belajar," pungkasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....