Hampir Seabad, Talang Tua Bumiayu Masih Mengantar Air ke Sawah

  • 19 Agt 2026 09:47 WIB
  •  Bandar Lampung

RRI.CO.ID, Pringsewu - Besi tua itu masih membentang di Bumiayu. Di balik bentuknya yang sederhana dan konstruksinya yang mulai menua, talang air yang diyakini sebagai peninggalan masa kolonial Belanda itu masih menjalankan pekerjaan yang sama hingga hari ini: membawa air menuju lahan pertanian.

Air berasal dari Bendungan Way Tebu. Dari sana, aliran masuk ke jaringan irigasi, melewati talang, kemudian diteruskan menuju wilayah lain.

Bagi warga sekitar, keberadaan talang bukan semata cerita tentang masa lalu. Selama pintu air dibuka, air masih mengalir dan dapat dimanfaatkan untuk mengairi sawah.

“Kalau diperlukan untuk pengaliran sawah, dibuka. Kalau tidak, ya biasa mengalir,” kata Reni Sulastri, warga Bumiayu, Selasa, 18 Agustus 2026.

Reni adalah salah satu warga yang tinggal tepat di dekat Talang Air 4 Bumiayu di Kecamatan Pringsewu, sistem tersebut memiliki pintu pengatur yang dapat dibuka dan ditutup sesuai kebutuhan. Alirannya juga tidak berhenti di sekitar talang, tetapi terus diteruskan ke wilayah lain.

Fungsi itu membuat bangunan tua tersebut masih memiliki arti bagi masyarakat.

Aisyah, warga Bumiayu lainnya, mengatakan keberadaan talang sudah dikenal masyarakat sejak lama. Ia bahkan masih mengingat keberadaan bangunan tersebut sejak sekitar dekade 1960-an.

“Empat lima juga sudah ada itu,” ujar Aisyah, merujuk pada tahun 1945.

Meski demikian, ingatan tentang lamanya usia talang itu kini beriringan dengan persoalan baru: kondisi bangunannya mulai menua.

Aisyah mengatakan talang tersebut belakangan kurang mendapatkan perawatan.

“Untuk perawatannya akhir-akhir ini kurang,” ujarnya.

Sejumlah bagian beton pada tiang disebut mulai rapuh. Sementara konstruksi baja masih dinilai kuat dan belum pernah diganti.

Kondisi tersebut menjadi perhatian warga karena talang masih memiliki fungsi nyata bagi pengairan sawah.

Ketika kebutuhan air datang, pintu pengaliran dibuka. Namun, persoalan tidak hanya berada pada bangunan talang.

Pada musim kemarau, debit air di Bendungan Way Tebu ikut menentukan apakah air dapat terus dialirkan.

Dalam beberapa pekan terakhir, menurut Reni, aliran sempat ditutup karena kondisi bendungan mengalami penyusutan cukup besar.

“Air di bendungan juga kondisinya surut banyak sih. Kering banget,” katanya.

Ketika air irigasi tidak tersedia, warga di sekitar kawasan talang memiliki alternatif berupa sumur bor.

Namun untuk kebutuhan pertanian, keberadaan jaringan irigasi tetap penting. Air dari Bendungan Way Tebu yang melewati talang masih menjadi bagian dari sistem pengairan yang digunakan menuju lahan sawah.

Ketika terjadi gangguan, warga biasanya menghubungi dinas yang menangani pekerjaan umum.

Aisyah mengatakan warga berharap pemerintah tidak hanya melihat talang tersebut sebagai bangunan lama, tetapi juga memperhatikan fungsi yang masih dijalankannya.

“Supaya terawat dan masih bisa dimanfaatkan untuk ke depannya,” ujarnya.

Harapan itu terdengar sederhana. Tetapi di baliknya ada persoalan yang lebih besar: bagaimana mempertahankan sebuah infrastruktur tua yang masih dibutuhkan masyarakat.

Sebab talang itu kini berada di antara dua peran.

Ia adalah warisan sejarah yang mengingatkan warga pada masa kolonial.

Namun pada saat yang sama, ia juga merupakan bagian dari sistem pengairan yang masih bekerja.

Besi-besinya masih membentang. Air masih melewatinya. Dan di ujung aliran, sawah-sawah masih membutuhkan pasokan air.

Karena itu, bagi warga Bumiayu, merawat talang bukan sekadar menjaga bangunan agar tidak hilang ditelan zaman.

Merawatnya berarti memastikan air tetap menemukan jalan menuju sawah.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....