Berkah Ramadan di Balik Rebusan Kolang Kaling

  • 01 Mar 2026 10:32 WIB
  •  Bandar Lampung

RRI.CO.ID, Bandarlampung – Ramadan menjadi bulan yang paling dinantikan Adin (43), perajin kolang kaling yang telah menekuni usaha ini hampir 20 tahun. Di kampungnya yang dikenal sebagai sentra kolang kaling, aktivitas produksi meningkat tajam sejak awal puasa.

Sejak pagi hingga sore, Adin bersama sekitar 10 pekerja sibuk mengolah buah aren yang didatangkan dari Lampung Barat dan Teluk Padang. Bahan baku biasanya dibeli dalam jumlah besar.

“Kalau lagi ramai, kami beli satu truk sekitar Rp5 juta. Itu sudah penuh sampai tempat. Setelah diolah bisa dapat satu ton lebih, tergantung kualitas buahnya,” ujar Adin kepada RRI, Minggu, 1 Maret 2026.

Proses pembuatan kolang kaling tidak sederhana. Buah aren mentah harus melalui beberapa tahapan sebelum siap dijual.

“Pertama dikupas dulu kulitnya. Habis itu digencet buat keluarin bijinya, terus dibersihkan. Setelah bersih baru direbus sampai matang. Kalau belum matang benar, nanti keras dan enggak enak,” jelasnya.

Setelah direbus, kolang kaling direndam beberapa hari untuk menghilangkan getah dan aroma asamnya. Air rendaman rutin diganti agar hasilnya bersih dan kenyal. Dari proses tersebut, kolang kaling siap dijual ke pasar.

Harga jual selama Ramadan berkisar Rp12 ribu hingga Rp13 ribu per kilogram. Permintaan meningkat untuk kebutuhan kolak dan manisan berbuka puasa.

“Kalau bulan puasa alhamdulillah bisa dapat bersih sekitar Rp200 ribu per hari. Kalau hari biasa paling Rp100 ribu, kadang kurang tergantung bahan baku,” katanya.

Menurut Adin, pertengahan hingga akhir Ramadan menjadi puncak penjualan. Pembeli tidak hanya dari Bandarlampung, tetapi juga luar daerah seperti Palembang.

Meski demikian, usaha ini memiliki tantangan tersendiri. Saat musim hujan, distribusi bahan baku dari pegunungan sering terhambat.

“Kalau hujan, jalan dari kebun ke jalan besar susah. Kadang bahan baku belum datang tapi pesanan sudah banyak,” ungkapnya.

Adin mengaku telah mengenal usaha kolang kaling sejak kecil. Setelah lulus sekolah dasar, ia ikut bekerja dan belajar dari perajin lain sebelum akhirnya membuka usaha sendiri.

“Dulu ikut orang. Lama-lama pengin punya usaha sendiri. Alhamdulillah sampai sekarang bisa bertahan,” ujarnya.

Dari usaha kolang kaling inilah ia membiayai pendidikan kedua anaknya. Anak pertama telah lulus SMK dan kini ikut membantu usaha keluarga, sementara anak keduanya masih sekolah dan direncanakan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

Ramadan bagi Adin bukan sekadar momentum peningkatan pendapatan, tetapi juga waktu menjaga tradisi usaha yang telah menjadi identitas kampungnya. Di tengah tantangan bahan baku dan cuaca, kolang kaling tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari kisah Ramadan masyarakat setempat.

Rekomendasi Berita