Perjuangan Pedagang Es Dawet Pada Usia Senja

  • 22 Mar 2025 14:08 WIB
  •  Bandar Lampung

KBRN, Bandarlampung: Di depan ruko Ramayana, Tanjung Karang, Bandarlampung, Poniran (78) masih setia menjajakan es dawet untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Pria yang tinggal di Jalan Abdurrahman, Sukajawa Baru, ini telah berdagang minuman segar selama enam tahun, meski penghasilannya tidak sebesar saat berjualan soto dulu.

Sebelum berjualan es dawet, Poniran pernah berjaya dengan usaha sotonya di Pasar Bambu Kuning dari tahun 1985 hingga 2005. Dari usahanya itu, ia mampu membeli rumah dan menyekolahkan ketiga anaknya.

Namun, setelah kehilangan sang istri, dagangannya perlahan merosot hingga ia akhirnya berhenti berjualan selama 11 tahun.

Memasuki usia senja, Poniran memilih kembali berjualan, meski pendapatannya kini tak menentu. Dalam sehari, ia bisa memperoleh Rp150 ribu jika pasar ramai, tetapi saat sepi, hanya Rp50 ribu pun sudah ia syukuri.

"Sekarang dagang hanya untuk mengisi waktu, bukan untuk mencari untung besar," ujarnya, kepada RRI, Sabtu (22/3/2025).

Ia membuka lapaknya dari pukul 10 pagi hingga 4 sore, dengan hujan sebagai tantangan utama. Biaya operasionalnya minim, hanya membayar kebersihan Rp6 ribu per hari.

Sementara itu, beban hidup tetap berat, terutama saat bulan Ramadan. Ia berharap mendapatkan bantuan program lansia, tetapi hingga kini belum ada jawaban dari pengurus RT setempat.

Meski usianya telah renta, Poniran tetap berjuang dengan semangat. Bagi dirinya, berdagang bukan hanya soal mencari nafkah, tetapi juga menjaga semangat hidup di masa tua.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....