Pejuang Malam di PKOR, Bertahan Dengan Arumanis
- 09 Mar 2025 12:03 WIB
- Bandar Lampung
KBRN, Bandarlampung: Ditengah gemerlap malam di kawasan Pusat Kegiatan Olahraga (PKOR) Lampung, kehidupan terus berdenyut. Bukan hanya tempat bagi masyarakat berolahraga di pagi hingga siang hari, kawasan tersebut juga berubah menjadi pusat aktivitas ekonomi kecil di malam hari. Para pedagang menjajakan makanan, minuman, serta wahana bermain anak-anak. Namun, di antara para pedagang itu, ada satu sosok yang menarik perhatian: Sutino, pria berusia 50 tahun yang tetap eksis berjualan arumanis dan popcorn demi menghidupi keluarganya.
Menggunakan gerobak sederhana berukuran 2x1,5 meter, Sutino menjajakan arumanis dan popcorn kepada para pengunjung PKOR. Warga Kampung Sawah, Karang, tersebut telah menekuni usahanya sejak 2008. Sebelumnya, ia berdagang di pasar malam, namun karena faktor usia dan tenaga yang semakin berkurang, ia memilih menetap di PKOR agar tidak perlu berpindah-pindah.
"Kalau di pasar malam, kan, harus pindah-pindah terus. Capek di tenaga. Kalau di sini, saya bisa tetap latihan sama teman dan berjualan lebih nyaman," ujar Sutino, Minggu (9/3/2025).
Setiap harinya, Sutino menyiapkan bahan baku berupa gula dan pewarna makanan. Proses pembuatan arumanisnya cukup sederhana tetapi membutuhkan ketelatenan. Ia menggunakan takaran satu sendok gula untuk satu bungkus arumanis. Mesin pemintal arumanis akan berputar dan mengubah gula menjadi serat-serat manis yang siap dibentuk menjadi gulungan kapas lembut.

"Dalam sehari, biasanya saya bisa menjual 30 hingga 40 bungkus arumanis dengan satu kilogram gula. Satu bungkusnya dijual Rp10.000. Kadang lebih, tapi kalau bulan puasa biasanya penjualan menurun," kata Sutino.
Selain arumanis, istrinya juga berjualan makanan, membantu menambah penghasilan keluarga. Dengan dua usaha yang mereka jalankan, Sutino bersyukur kebutuhan sehari-hari masih bisa tercukupi.
Tidak selalu mudah berdagang di PKOR. Tantangan terbesar bagi Sutino adalah hujan. Jika hujan turun, pengunjung akan sepi, dan dagangannya pun tidak laku.
"Kalau hujan, pengunjung bisa nggak ada. Ya, itu tantangan. Tapi tetap saya jalani," ucapnya dengan senyum.
Namun, bagi Sutino, berdagang bukan sekadar mencari nafkah, melainkan juga cara mengisi waktu dan tetap produktif, terutama di bulan Ramadan. Ia berharap, ke depannya usahanya semakin maju sehingga ia bisa mengumpulkan modal lebih besar untuk berinvestasi dalam bisnisnya.
Bagi Sutino, kebahagiaan terbesar bukan hanya dari hasil penjualan, tetapi juga dari masa depan anak-anaknya. Salah satu anaknya saat ini tinggal bersama neneknya di Jawa Tengah untuk bersekolah. Ia berharap sang anak bisa belajar dengan giat dan menjadi pribadi yang berbakti kepada orang tua.
"Harapannya anak saya sekolah yang rajin, bisa berbakti kepada orang tua, dan punya masa depan lebih baik. Saya ingin usaha ini tetap berjalan dan bisa lebih maju," katanya penuh harap.
Di tengah hiruk-pikuk PKOR, Sutino membuktikan semangat pantang menyerah dapat menjadi kunci dalam menghadapi kehidupan. Dengan gerobak sederhana dan mesin pemintal arumanisnya, ia terus berjuang demi keluarga, menyalakan asa di malam yang penuh kehidupan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....