DiBalik Belanja Online: Picu Krisis Sampah Plastik
- 11 Apr 2026 14:27 WIB
- Bandar Lampung
RRI.CO.ID, Bandarlampung - Maraknya bisnis online di Indonesia dinilai semakin memperparah penggunaan plastik, terutama dalam aspek pengemasan produk. Peneliti Malcon Institute (Center Urban and Regional Study), Erwin Oktavianto, SE., ME, menyebutkan bahwa hampir seluruh transaksi daring saat ini masih bergantung pada plastik sebagai bahan utama packaging.
" Fenomena ini dapat dilihat dari kebiasaan masyarakat menerima paket belanja online yang sebagian besar dibungkus plastik, meskipun produk di dalamnya tergolong ramah lingkungan. Selain itu, penggunaan selotip berlapis dan kemasan tambahan berbahan plastik turut menyumbang limbah yang sulit terurai", ujar Erwin.
Menurut Erwin Oktavianto, SE., ME, hingga kini belum ada standar baku terkait penggunaan kemasan ramah lingkungan dalam bisnis online di Indonesia. Kondisi ini diperparah oleh dilema antara kebutuhan industri dan upaya pengurangan plastik, mengingat bahan tersebut masih menjadi pilihan utama karena lebih murah dan mudah didapat.
" Ketergantungan masyarakat terhadap industri plastik juga menjadi kendala besar. Jika penggunaan plastik dihentikan secara drastis, dikhawatirkan akan berdampak pada sektor tenaga kerja, termasuk potensi pemutusan hubungan kerja di industri terkait", kata Erwin.
Erwin menegaskan, diperlukan pembentukan lembaga khusus yang fokus menangani persoalan produk dan kemasan ramah lingkungan. Tanpa fokus tersebut, persoalan kecil seperti limbah packaging online berpotensi menjadi masalah besar karena tingginya volume transaksi digital di masyarakat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....