Santri di Magelang Sukses Ternak Entok Jumbo

  • 31 Mar 2026 20:48 WIB
  •  Bandar Lampung

RRI.CO.ID, Bandar Lampung - Di balik tembok pesantren yang identik dengan kajian kitab kuning, muncul sebuah cerita inspiratif tentang kemandirian ekonomi. Muhammad Nurdin, seorang santri di Pondok Pesantren Salaf API Asri, Tegalrejo, Magelang, membuktikan bahwa sampah dapur pesantren bisa disulap menjadi ladang usaha yang menjanjikan melalui budidaya entok jumbo.

Usaha ini bukan sekadar proyek bisnis biasa. Ide mulianya lahir dari keprihatinan seorang pengasuh pondok yang gerah melihat tumpukan sisa nasi santri terbuang percuma. Alih-alih menjadi mubazir, sang kyai lantas mengucurkan modal awal Rp35 juta untuk membeli ribuan entok, sekaligus menciptakannya sebagai solusi pengelolaan limbah.

Kunci kesuksesan usaha ini terletak pada efisiensi pakan yang sangat tinggi. Hingga 80 persen pakan entok sehari-hari berasal dari sisa nasi yang telah dicuci bersih dari minyak, kemudian dicampur dengan bekatul dan konsentrat pabrikan. Metode ini tidak hanya menekan biaya operasional secara drastis, tetapi juga mengajarkan para santri tentang konsep ekonomi sirkular.

Perjalanan Nurdin tentu tidak selalu mulus. Ia sempat kehilangan 300 ekor entok dalam satu waktu akibat wabah penyakit mata biru karena kelalaian dalam masa karantina. "Kejadian itu menjadi pelajaran pahit namun berharga tentang pentingnya vaksinasi dan sanitasi kandang," ungkap Nurdin.

Untuk menjaga kerukunan dengan warga sekitar, para santri pun inovatif. Mereka menggunakan pasir sebagai alas kandang untuk menyerap kotoran cair, sehingga lingkungan tetap bersih dan tidak menimbulkan bau. Kotoran yang terkumpul pun tidak dibuang, melainkan diolah menjadi pupuk organik untuk menyuburkan tanaman cabai dan kubis di area perkebunan pesantren.

Lebih dari sekadar untung rugi materi, program ini adalah laboratorium kehidupan bagi para santri. Nurdin menyampaikan harapannya agar anak pesantren tidak hanya cerdas dalam ilmu agama, tetapi juga tangguh menghadapi kerasnya dunia usaha. "Harapannya, anak pesantren bisa tahu yang namanya kehidupan itu bagaimana, supaya tidak menyepelekan soal keuangan. Kadang anak yang tidak tahu rasanya mencari uang itu pasti menyepelekan," tuturnya dengan penuh makna.

Cerita dari Magelang ini menjadi bukti bahwa dengan ketekunan, manajemen yang tepat, dan niat baik, sebuah keterbatasan (limbah) dapat berubah menjadi peluang usaha yang besar serta mencetak generasi santri yang mandiri.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....