Dari Semak Belukar, Pasangan Sleman Wujudkan Kebun Pangan Mandiri

  • 31 Mar 2026 20:39 WIB
  •  Bandar Lampung

RRI.CO.ID, Bandar Lampung - Awalnya, lahan di depan rumah pasangan ini tak lebih dari semak belukar setinggi orang dewasa yang kerap menjadi sarang ular. Demi keamanan keluarga, Pak Tri berinisiatif menyewa dan membersihkan lahan tersebut. Dari situlah perjalanan transformasi dimulai.

Tanpa latar belakang pertanian, keduanya belajar secara otodidak melalui YouTube dan langsung mempraktikkan ilmu yang didapat. Prinsip yang mereka pegang sederhana namun kuat: "Sing ono sing iso" — kerjakan dulu apa yang ada dan apa yang bisa, tanpa menunggu modal besar atau peralatan canggih.

Kebun ini bukan sekadar deretan tanaman sayur. Pak Tri membangun sistem integrated farming yang berkesinambungan. Ayam jenis Elba dipelihara di kandang bernuansa estetis; kotorannya diolah menjadi pupuk organik untuk menyuburkan tanaman. Sementara itu, tanaman Azolla, Lemna, dan Indigofera ditanam khusus sebagai pakan alami bagi ayam dan ikan, sehingga ketergantungan pada pakan pabrikan bisa ditekan.

Ragam sayuran harian pun tumbuh subur di lahan ini — mulai dari kangkung, bayam, tomat, terong, cabai, kacang panjang, hingga pare — mencukupi kebutuhan dapur sehari-hari.

Dampaknya melampaui urusan perut. Kebun ini menjelma menjadi ruang belajar bagi anak-anak mereka: setiap pagi, si kecil bertugas membersihkan kandang, mengenal siklus tumbuh tanaman, dan belajar menyayangi makhluk hidup. Ketergantungan pada gawai pun berangsur berkurang.

Bagi Pak Tri dan Bu Uti sendiri, berkebun menjadi terapi kesabaran sekaligus perekat hubungan. "Bertanam itu bukan hanya buah fisik yang kita dapatkan, tapi juga buah kesabaran," ungkap mereka seperti dikutip dari podcast YouTube CapCapung.

Cara mereka memandang sampah pun berubah. Cangkang telur dan sisa sayuran kini tak lagi sekadar limbah, melainkan bahan kompos atau pakan ternak yang bernilai.

Perjalanan Pak Tri dan Bu Uti merangkum sebuah filosofi Jawa yang sederhana namun dalam: "Atek tekun, tekan" — berpegang pada ketekunan, maka tujuan pasti tercapai.

Kisah mereka menjadi bukti nyata bahwa ketahanan pangan keluarga bisa dimulai dari pekarangan rumah sendiri, tanpa syarat muluk-muluk. Modal terbesarnya bukan uang, melainkan kemauan untuk memulai.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....