Kisah PHK hingga Sukses Jual Ribuan Roti per Hari
- 28 Feb 2026 21:48 WIB
- Bandar Lampung
RRI.CO.ID, Bandar Lampung - Kisah perjuangan pasangan suami istri asal Tulungagung ini membuktikan bahwa kegagalan bukanlah akhir segalanya. Dari titik nadir kehidupan akibat pemutusan hubungan kerja (PHK) di masa sulit, mereka kini sukses memproduksi ribuan roti setiap harinya hingga pasar merambah Kalimantan dan Papua.
Video podcast kanal YouTube PecahTelur baru-baru ini menyoroti perjalanan hidup Pak Saiful dan Ibu Weni, pemilik Tanmur Bakery. Momen terberat mereka terjadi sebelum pandemi COVID-19. Pak Saiful di-PHK mendadak dari pekerjaannya di bidang finance. Saat itu, Ibu Weni sedang mengandung anak kedua dengan usia kehamilan tujuh bulan.
Tanpa penghasilan tetap, mereka nekat berjualan telur gulung di pinggir jalan. Pendapatan hanya cukup untuk makan sehari-hari. Demi menyambung hidup, Pak Saiful bahkan rela bekerja sebagai kuli bangunan, melepas seragam dan sepatu kantornya demi upah harian.
Usaha roti ini justru lahir dari kebutuhan keluarga. Anak mereka memiliki alergi terhadap penyedap rasa dan minyak goreng bekas. Agar sang buah hati tetap bisa menikmati camilan aman, Ibu Weni mengikuti kursus membuat roti untuk konsumsi sendiri.
Perlahan, mereka merintis usaha. Awalnya berjualan roti manis dengan sistem titip di warung, namun kendala barang retur merugikan mereka. Pasangan ini kemudian beralih ke segmen roti burger dan frozen food yang kompetitornya masih sedikit. Pak Saiful yang sempat minder karena latar belakang kantoran, mulai nekat menawarkan produk ke warung kopi menggunakan sepeda motor.
Kesuksesan Tanmur Bakery tak lepas dari komitmen menjaga kualitas. Mereka mengembangkan resep secara otodidak melalui trial and error. Pak Saiful menekankan pentingnya keterbukaan terhadap kritik pelanggan, meskipun disampaikan dalam bentuk video. "Intinya kita itu tidak pernah merasa pintar. Kita harus bodoh selamanya (agar mau belajar)," ujarnya dalam podcast tersebut.
Kini, produksi mereka mencapai 1.500 hingga 2.000 roti per hari dengan sepuluh karyawan dari lingkungan sekitar. Usaha yang bermula dari rumah di gang desa ini telah menembus pasar Tulungagung, Kediri, Jawa Tengah, bahkan Kalimantan dan Nabire, Papua.
"Apapun saya lakukan selama saya gak nipu orang itu satu pedoman saya," tegas Pak Saiful. Pesannya bagi yang ingin memulai usaha, penolakan bukan berarti produk jelek, melainkan karena calon pembeli belum kenal. Keyakinan mereka sederhana: rezeki sudah ditakar, tetapi harus dijemput dengan tindakan nyata.