Bangkit dari Hutang, Perajin Blitar Tembus Pasar Ekspor
- 28 Feb 2026 21:35 WIB
- Bandar Lampung
RRI.CO.ID, Bandar Lampung - Kegagalan bukanlah akhir dari segalanya. Semangat pantang menyerah itulah yang ditunjukkan oleh Ibu Susilowati, pemilik SR Handicraft asal Blitar. Kisah inspirasinya tentang bangkit dari lilitan hutang hingga sukses menembus pasar internasional melalui kerajinan kayu menjadi bukti nyata.
Perjalanan bisnis Ibu Susi, demikian ia akrab disapa, tidak selalu mulus. Sebelum sukses dengan kerajinan kayu, ia dan suami hanya berjualan bakso dengan sepeda ontel warisan. Berbekal keahlian sang suami di bidang pertukangan, mereka memberanikan diri merintis usaha kerajinan kayu dari modal Rp5 juta.
Usaha mereka sempat berada di puncak kejayaan pada tahun 2016. Kala itu, produksi kendang jimbe melesat drastis berkat kontrak besar dari supplier China. Omset pun mencapai miliaran rupiah dengan pengiriman satu kontainer setiap minggunya.
Namun, badai datang pada tahun 2018. Penurunan kualitas bahan baku dari supplier lokal dan kemacetan pembayaran dari pembeli di China dan Korea membuat usahanya terpuruk. Ibu Susi harus berhadapan dengan hutang bank senilai lebih dari Rp300 juta. Aset pribadi seperti tanah dan mobil terpaksa dijual untuk menutup hutang.
Tak patah arang, di masa pandemi ia justru menemukan peluang baru. Ibu Susi belajar berjualan secara otodidak di platform digital seperti Shopee, Facebook, dan TikTok. Ia memanfaatkan limbah kayu kendang menjadi produk gelas kayu yang ternyata digemari pasar. Kini, melalui TikTok saja, omzetnya mencapai Rp50 juta hingga Rp100 juta per bulan.
Yang menarik dari kisahnya adalah keberaniannya mendahulukan ibadah. Di tengah kesulitan ekonomi pasca bangkrut, ia nekat menggunakan sisa uang penjualan aset untuk berangkat umrah. "Aku mau umrah dulu saja, aku ingin mengejar akhirat biar dunia mengikuti," ujarnya dalam kanal YouTube PecahTelur. Keyakinannya terbukti, di tahun 2023 ia dan suami mendapat panggilan haji tanpa antre setelah kembali sukses berbisnis.
"Segenap sesuatu kalau kita pasrahkan, pasti akan kembali kepada kita lebih baik. Di jalan Allah pasti nanti dikasih jalan," pesan Ibu Susi. Kini, usahanya tidak hanya menghidupi keluarganya sendiri, tetapi juga memberdayakan sekitar 20 orang, yang 80 persen di antaranya adalah saudara dan tetangga.
Kisah Ibu Susi menjadi pelajaran berharga bahwa adaptasi teknologi dan kekuatan spiritualitas adalah kunci utama bangkit dari keterpurukan dan meraih kesuksesan kembali.