Kisah Ibu Lia, Mantan TKW Sukses Rintis Warung Jentile

  • 28 Feb 2026 21:14 WIB
  •  Bandar Lampung

RRI.CO.ID, Bandar Lampung - Mimpi sederhana kerap lahir dari kondisi yang paling sulit. Hal itu dijalani oleh Ibu Lia, pemilik Warung Jentile di Desa Besuki, Kecamatan Besuki, Kabupaten Tulungagung. Perempuan inspiratif ini membagikan kisah hidupnya dalam podcast PecahTelur, yang menjadi bukti bahwa keterbatasan bukan akhir dari segalanya.

Di usia yang masih sangat belia, yakni 15 tahun, Ibu Lia harus mengubur cita-citanya. Setelah lulus SMP pada tahun 2005, kondisi ekonomi keluarga yang sulit memaksanya untuk bekerja. Motivasi terbesarnya kala itu adalah melihat sang ayah yang setiap hari harus mengangkut air dengan sepeda ontel dari tempat jauh hanya untuk kebutuhan mandi keluarga.

"Saya kasihan sama Bapak. Makanya, saya nekat ke Taiwan untuk memperbaiki ekonomi," kenang Ibu Lia.

Selama enam tahun ia mengais rezeki di negeri orang. Setelah menikah dan memiliki anak, Ibu Lia memutuskan untuk kembali ke tanah air dan menetap. Keinginannya sederhana, yakni bisa bekerja sambil berkumpul bersama keluarga, sesuatu yang tidak pernah ia dapatkan selama menjadi TKW.

Takdir kemudian membawanya pada dunia kuliner secara tidak sengaja. Berawal dari hobi memasak, Ibu Lia membuat jenang untuk takjil dan mengunggahnya di status WhatsApp. Rasa penasaran teman-temannya pun muncul. Mereka mencoba dan ketagihan. Pesanan pertama langsung melonjak hingga lebih dari 100 porsi, sampai-sampai suaminya yang masih bekerja sebagai satpam harus rela mengantar pesanan satu per satu.

Dari situlah Warung Jentile, singkatan dari "Jenang Tiwul Lia", mulai berdiri. Menu andalannya adalah nasi tiwul dan aneka jenang campur seperti grendul, ketan hitam, dan sumsum. Ibu Lia berpegang teguh pada kualitas. Ia memastikan semua bahan baku, seperti gula merah dan santan, adalah asli tanpa campuran bahan pengawet atau pemanis buatan.

Meski berada di kawasan pegunungan, warungnya justru viral saat masa pandemi. Pelanggan dari berbagai daerah rela antre dan berebut tempat duduk demi menikmati kelezatan masakan Ibu Lia. Hingga kini, ia tetap terjun langsung memasak setiap pukul 03.00 atau 04.00 pagi. Menurutnya, menjaga cita rasa adalah kunci utama.

"Banyak orang ke sini senang. Kalau mereka bilang masakannya enak, rasa capek itu hilang semuanya," ujarnya dengan senyum bahagia.

Kini, Ibu Lia dibantu tiga orang karyawan. Sang suami pun telah berhenti dari pekerjaan lamanya untuk fokus membangun usaha bersama di rumah. Kehidupan yang dulu penuh perjuangan kini telah berubah menjadi kebahagiaan sederhana yang setiap hari ia rasakan.

"Enak sekarang. Bisa tiap hari di rumah sama keluarga, bisa guyon-guyon dan makan bareng," tutupnya.

Ibu Lia berpesan kepada para pelaku usaha pemula untuk pantang menyerah dan selalu menjaga kualitas produk. Kisahnya menjadi inspirasi bahwa dengan keberanian mencoba dan ketekunan, kesuksesan akan datang meski harus dimulai dari nol.

Rekomendasi Berita