Fenomena "Doom Spending": Pelarian Stres Finansial Gen Z lewat Belanja Impulsif
- 23 Mei 2026 10:21 WIB
- Bandar Lampung
RRI.CO.ID, Bandar Lampung - Di tengah ketidakpastian ekonomi global dan tingginya biaya hidup, sebuah tren perilaku keuangan yang disebut doom spending kini marak terjadi di kalangan anak muda. Fenomena ini merujuk pada kebiasaan berbelanja barang-barang mewah atau kebutuhan non-primer secara impulsif sebagai bentuk pelarian dari rasa stres akibat masa depan finansial yang suram. Banyak remaja dan dewasa muda merasa bahwa menabung untuk membeli aset besar seperti rumah terasa mustahil, sehingga mereka memilih menghabiskan uangnya untuk kepuasan instan saat ini.
Barang-barang seperti kopi premium, pakaian bermerek, hingga gawai terbaru kerap menjadi pelampiasan untuk mendapatkan kebahagiaan jangka pendek. Para sosiolog menilai perilaku ini merupakan mekanisme pertahanan psikologis terhadap tekanan ekonomi yang berat. Media sosial turut memperparah kondisi ini dengan algoritma yang terus menampilkan gaya hidup mewah, yang secara tidak langsung melegitimasi tindakan konsumtif tersebut sebagai bentuk penghargaan diri atau self-reward.
Namun, para perencana keuangan mengingatkan bahwa doom spending dapat menjadi lingkaran setan yang memperburuk kondisi finansial jangka panjang. Tanpa adanya dana darurat dan tabungan yang memadai, anak muda akan semakin rentan terhadap krisis keuangan jika terjadi situasi darurat seperti pemutusan hubungan kerja. Disiplin dalam membedakan antara kebutuhan emosional dan kebutuhan riil menjadi kunci utama untuk memutus rantai perilaku konsumtif yang destruktif ini.
Edukasi mengenai pengelolaan stres yang sehat tanpa melibatkan transaksi finansial kini mulai banyak dikampanyekan oleh komunitas kesehatan mental. Anak muda diajak untuk mengalihkan kecemasan mereka ke aktivitas yang lebih produktif dan murah, seperti berolahraga atau mendalami hobi baru. Dengan kesadaran yang lebih baik, diharapkan generasi muda dapat menghadapi tantangan ekonomi dengan kepala dingin tanpa harus mengorbankan stabilitas masa depan mereka.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....