Tarif Trump Hantam Shein, Rugi Rp1,6 Triliun
- 27 Jul 2026 14:19 WIB
- Bandar Lampung
Poin Utama
- Shein mengalami kerugian sebesar 99 juta dolar AS (sekitar Rp1,6 triliun) pada kuartal pertama 2026, berbeda drastis dari keuntungan 395 juta dolar pada periode yang sama tahun lalu.
- Kebijakan tarif Presiden Donald Trump yang mencabut pembebasan bea masuk untuk paket kiriman bernilai kecil (de minimis exemption) menjadi penyebab utama kerugian perusahaan fesyen cepat asal Singapura ini.
- Pencabutan de minimis exemption berdampak signifikan pada model bisnis Shein yang bergantung pada pengiriman paket bernilai rendah ke seluruh dunia.
RRI.CO.ID, Bandar Lampung - Raksasa fesyen cepat asal Singapura, Shein, mencatat kerugian hingga 99 juta dolar AS atau sekitar Rp1,6 triliun pada kuartal pertama 2026. Angka ini berbalik drastis dari keuntungan bersih 395 juta dolar AS pada periode yang sama tahun lalu.
Pemicunya? Kebijakan tarif Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mencabut pembebasan bea masuk untuk paket kiriman bernilai kecil, atau yang dikenal sebagai de minimis exemption.
Sebelumnya, kebijakan ini memungkinkan barang senilai 800 dolar AS atau kurang masuk ke AS tanpa dikenai tarif. Jutaan konsumen Amerika memanfaatkan celah ini untuk berbelanja murah dari platform seperti Shein dan Temu. Namun sejak 29 Agustus 2025, Trump menandatangani perintah eksekutif yang memperluas penghapusan exemption tersebut ke seluruh dunia, bukan hanya produk asal China dan Hong Kong.
"Penghapusan kebijakan de minimis AS telah berdampak buruk pada penjualan kami di Amerika Serikat dan pertumbuhan pendapatan bersih secara keseluruhan," ungkap Shein dalam dokumen pengajuan resminya.
Sebagai respons, perusahaan yang didirikan di China namun berkantor pusat di Singapura ini menyatakan akan menaikkan harga produk di pasar AS guna menutup sebagian kenaikan biaya operasional.
Di luar tekanan tarif, Shein juga menyebut konflik di Iran turut menekan permintaan, meningkatkan biaya, serta menyebabkan keterlambatan pengiriman di sejumlah pasar. Kerugian kuartal pertama ini juga sebagian dipengaruhi oleh kerugian akuntansi sebesar 328 juta dolar AS akibat perubahan pencatatan saham investor khusus.
Meski dilanda tekanan, basis pelanggan Shein justru tumbuh. Per akhir Maret 2026, perusahaan ini memiliki 281 juta pelanggan aktif — naik lebih dari 16 persen dibanding tahun sebelumnya — dengan total lebih dari satu miliar pesanan.
Pengungkapan laporan keuangan ini merupakan bagian dari persiapan Shein menuju pencatatan saham perdana (IPO) di Bursa Efek Hong Kong, setelah upaya listing di New York dan London sebelumnya gagal. Otoritas Regulasi Sekuritas China (CSRC) telah memberikan lampu hijau pada 10 Juli 2026, dan IPO diperkirakan berlangsung dalam beberapa bulan ke depan.
Tekanan terhadap Shein tidak hanya datang dari AS. Uni Eropa juga baru saja memberlakukan pungutan sebesar 3 euro untuk setiap impor e-commerce bernilai rendah, sebagai upaya membendung persaingan yang dinilai tidak adil dari platform asal China.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....