Kurir Malam Korea Selatan: antara Upah Besar dan Nyawa

  • 27 Jul 2026 14:19 WIB
  •  Bandar Lampung
Poin Utama
  • Jang Deok-jun, pekerja berusia 27 tahun di gudang Coupang, meninggal dunia akibat serangan jantung setelah lebih dari setahun menjalani shift malam.
  • Ibunya, Park Mi-suk, meminta anak berhenti bekerja seminggu sebelum Jang meninggal yang ditemukannya tak sadarkan diri di kamar mandi.
  • Kemudahan belanja online dengan jaminan pengiriman sebelum pukul 07.00 pagi ternyata membawa konsekuensi kesehatan yang berat bagi para pekerja gudang.

RRI.CO.ID, Bandar Lampung - Kemudahan belanja online yang menjanjikan pengiriman sebelum pukul 07.00 pagi ternyata menyimpan harga yang mahal — nyawa para pekerjanya.

Park Mi-suk tak pernah menyangka permintaannya agar sang anak berhenti bekerja adalah yang terakhir. Seminggu kemudian, ia menemukan Jang Deok-jun, 27 tahun, tak sadarkan diri di kamar mandi. Jang meninggal dunia akibat serangan jantung setelah lebih dari setahun menjalani shift malam di gudang Coupang, ritel daring terbesar Korea Selatan.

Lembaga asuransi pekerja negara, Comwel, menyimpulkan kematian Jang disebabkan oleh kelebihan kerja. Selama berbulan-bulan sebelum meninggal, jam kerja Jang memenuhi ambang batas hukum Korea Selatan untuk kematian akibat kerja berlebih — rata-rata 60 jam per minggu selama 12 minggu.

"Saya tidak memperhatikan kata-kata anak saya, dan saya kehilangan dia. Saya berharap orang lain tidak mengulangi kesalahan yang sama," ujar Park.

Industri Pengiriman Malam yang Terus Berkembang

Korea Selatan adalah salah satu negara paling terhubung secara digital di dunia. Konsumen terbiasa memesan produk sebelum tengah malam dan menerimanya keesokan pagi. Kenyamanan ini bertumpu pada puluhan ribu pekerja gudang dan pengemudi yang bekerja sepanjang malam.

Coupang, yang didirikan oleh pengusaha keturunan Korea-Amerika, mendominasi industri ini dengan hampir 100.000 karyawan dan jaringan gudang serta armada truk yang tak tertandingi.

Namun kemudahan itu kini memicu perdebatan nasional.

Antara 2020 hingga Mei 2026, Comwel mencatat 46 pekerja gudang dan kurir meninggal akibat stroke atau penyakit jantung yang dikategorikan sebagai kematian terkait pekerjaan.

"Ini Menggerogoti Tubuhku"

Kim — bukan nama sebenarnya — adalah pengemudi subkontraktor Coupang yang bekerja dari pukul 21.00 hingga 07.00, lima hingga enam hari seminggu. Gajinya sekitar 7 juta won per bulan (sekitar Rp84 juta), hampir dua kali lipat rata-rata nasional.

"Saya tidak bisa melakukan ini seumur hidup karena ini menggerogoti tubuh saya," akunya. Namun ia mengaku gaji besar itu sepadan.

Setiap kali truknya berhenti, ia berlari membawa paket. Hampir semua pengemudi dibayar berdasarkan jumlah paket yang berhasil dikirim sebelum pukul 07.00. Jika gagal, mereka berisiko kehilangan wilayah pengiriman mereka.

Badan penelitian kanker PBB menyebut kerja malam sebagai salah satu penyebab kanker. Profesor kedokteran kerja Kang Mo-yeol dari Universitas Katolik Korea menambahkan bahwa bukti ilmiah terus bertambah bahwa kerja malam juga meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular, diabetes, dan gangguan mental.

Korea Selatan sendiri tidak membatasi jam kerja malam, berbeda dengan Inggris yang melarang pengemudi kurir malam bekerja lebih dari 10 jam dalam sehari.

Coupang di Bawah Sorotan

Kasus lain turut mencuat. Oh Seung-yong, 34 tahun, meninggal setelah menabrakkan truknya ke tiang listrik saat bertugas. Comwel memutuskan kematiannya termasuk kategori kecelakaan kerja. Catatan kerjanya menunjukkan ia bekerja enam hari seminggu, lebih dari 11 jam sehari, sebagian besar di malam hari — bahkan sempat mengantar paket selama empat jam saat ayahnya baru saja meninggal.

CEO Coupang Harold Rogers dipanggil parlemen pada Desember 2025 untuk mempertanggungjawabkan kematian Jang dan Oh, sekaligus atas kebocoran data 37,5 juta pengguna — pelanggaran terbesar dalam sejarah Korea Selatan yang berujung denda rekor sebesar 410 juta dolar AS.

Kepada saudara perempuan Oh yang meminta permintaan maaf, Rogers hanya terdiam.

Coupang menyatakan telah membatasi jam kerja karyawan di bawah 52 jam per minggu dan mengklaim memiliki "nol kematian akibat kecelakaan industri" — rekor terbaik di industri logistik global. Perusahaan juga membantah tuduhan menutup-nutupi bukti terkait kasus Jang.

Perjuangan yang Belum Usai

Enam tahun setelah kematian Jang, Park Mi-suk masih berjuang. Ia terpaksa menutup usaha pembuatan furniturnya dan pindah ke apartemen sewaan di Kota Daegu. Koleksi action figure milik anaknya masih tersimpan rapi dalam sebuah kotak.

Jang pernah menggambarkan pekerjaannya seperti bermain jungkat-jungkit: jika ia turun, rekan-rekannya akan kesulitan. Kini Park melihatnya berbeda.

"Jang dan puluhan ribu pekerja seperti dia berada di satu sisi, demi kenyamanan konsumen di sisi lain," katanya.

"Saya berharap kita tidak menjadi masyarakat yang menutup mata atas pengorbanan orang lain demi sedikit kenyamanan."

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....