Survivor Trafficking Meksiko Suarakan Bahaya Piala Dunia

  • 01 Jul 2026 04:43 WIB
  •  Bandar Lampung

RRI.CO.ID, Bandar Lampung - Survivor Trafficking Meksiko Suarakan Bahaya Piala Dunia

Karla Jacinto baru berusia 12 tahun ketika dipaksa bekerja di sebuah rumah bordil di Guadalajara, Meksiko. Pengalaman kelam itu kini menjadi alasan kuat baginya untuk menyuarakan kekhawatiran besar: Piala Dunia FIFA 2026 yang digelar di Meksiko berpotensi memicu lonjakan perdagangan manusia akibat membanjirnya wisatawan ke negara tersebut.

Jacinto mengaku masih mengingat jelas betapa tak berdayanya dirinya pada hari pertama "dijual" kepada para pelanggan. Ia menangis, berteriak, dan memohon pertolongan, namun tak seorang pun mendengarnya hingga akhirnya ia memilih menutup mata setiap kali harus melayani korban demi korban berikutnya.

Tiga bulan sebelum kejadian itu, Jacinto dirayu oleh seorang pria berusia 22 tahun yang menjanjikan cinta, pernikahan, dan kehidupan indah yang tak pernah ia bayangkan sebagai anak korban kekerasan keluarga. Beberapa hari setelah pindah tinggal bersama pria itu, ia justru dipaksa menjajakan diri selama empat tahun berikutnya. Menurut perkiraannya sendiri, ia diperkosa puluhan ribu kali sebelum akhirnya berhasil melarikan diri pada usia 16 tahun.

Kini berusia awal 30-an, Jacinto aktif sebagai pegiat sosial yang mendampingi para penyintas perdagangan manusia lainnya. Kisahnya ia bagikan sebagai bagian dari kampanye untuk mengingatkan publik akan risiko meningkatnya kejahatan ini selama gelaran Piala Dunia.

Kekhawatiran dari Berbagai Pihak

Kekhawatiran serupa juga disuarakan oleh UNICEF, pemerintah Amerika Serikat dan Meksiko, sejumlah perusahaan swasta, serta organisasi hak asasi manusia. Berbagai kampanye lintas lembaga seperti "It's a Penalty" dan "World Cup Without Trafficking" turut digencarkan untuk menekan risiko tersebut.

Meski sulit mengukur secara pasti dampak membanjirnya wisatawan terhadap masalah yang sudah mengakar ini, para penyintas mengingatkan agar tantangan tersebut tidak dianggap remeh. Mixi Cruz, yang dipaksa menjajakan diri di Mexico City saat berusia sekitar 15 tahun, mengaku dari pengalamannya sendiri permintaan terhadap prostitusi meningkat setiap kali ada ajang olahraga besar berlangsung.

Mexico City menjadi salah satu dari tiga kota, selain Guadalajara dan Monterrey, yang menjadi tuan rumah 13 pertandingan Piala Dunia di Meksiko. Meskipun sejumlah pihak pemerintah telah bekerja sama dengan LSM dan sektor swasta untuk meningkatkan pelaporan kasus perdagangan seks selama turnamen, skala acara yang diperkirakan mendatangkan jutaan wisatawan ini membuat pengawasan menjadi sangat sulit dilakukan.

"Sejujurnya, Meksiko saat ini belum siap menjadi tuan rumah Piala Dunia," ujar Cruz, sembari menuding pemerintah belum berbuat cukup untuk mengatasi persoalan ini. Kritik serupa juga disampaikan banyak aktivis yang menilai korupsi dan impunitas pemerintah telah membuat perdagangan manusia merajalela, meski pihak berwenang bersikukuh telah berupaya menanganinya lewat penyelidikan dan kampanye kesadaran publik.

Bisnis Kriminal yang Terus Berkembang

Berdasarkan Indeks Kejahatan Terorganisasi Global 2025, perdagangan manusia, khususnya untuk eksploitasi seksual dan tenaga kerja, kini menjadi salah satu bisnis kriminal paling menguntungkan di Meksiko. Kelompok kejahatan seperti Kartel Jalisco New Generation dan Kartel Sinaloa pun mulai merambah ke sektor ini, yang diperkirakan menjadi bisnis kriminal terbesar ketiga di Meksiko setelah narkoba dan senjata.

Data resmi Sistem Keamanan Publik Nasional Meksiko mencatat lonjakan tajam jumlah korban, dari 537 kasus pada 2017 menjadi 1.154 kasus pada 2025. Namun, banyak LSM meyakini angka tersebut hanya mewakili sebagian kecil dari kondisi sebenarnya. Gabriela González García, direktur jenderal Dewan Warga untuk Keamanan dan Keadilan Mexico City, memperkirakan hanya sekitar 2 persen kasus perdagangan manusia yang benar-benar dilaporkan ke pihak berwajib.

Persoalan ini semakin rumit karena 13 negara bagian di Meksiko melegalkan dan mengatur praktik prostitusi bagi orang dewasa, yang menurut para kritikus justru menjadi celah bagi pelaku kejahatan untuk memperdagangkan korban, tanpa memandang usia, secara terang-terangan di distrik lampu merah negara tersebut.

Bukan Sekadar Eksploitasi Seksual

Perdagangan manusia di Meksiko tidak hanya menyasar eksploitasi seksual, tetapi juga kerja paksa. Seorang penyintas yang dikenal dengan nama samaran Zunduri menceritakan bagaimana dirinya dijebak pada usia 17 tahun oleh sebuah keluarga yang berjanji akan merawatnya. Alih-alih dirawat, ia justru dipaksa bekerja berjam-jam di usaha dry cleaning milik keluarga tersebut, menyetrika hingga 16 lusin kemeja per hari tanpa diberi makan, tidur, atau perawatan medis yang layak, bahkan sempat dirantai selama enam bulan.

Daniela Tapia, salah satu pendiri lembaga nirlaba antiperdagangan manusia Fundación Libera México, mengungkapkan modus perekrutan kini juga banyak terjadi lewat tawaran kerja palsu yang membanjiri media sosial, selain modus manipulasi romantis yang lebih dulu dikenal luas.

Risiko di Tengah Gelombang Wisatawan

Indira Navarro, yang memimpin kelompok warga sipil pencari orang hilang di Jalisco, mengatakan kasus hilangnya anak perempuan kerap melonjak saat ajang olahraga besar digelar. Menurutnya, banyak dari mereka direkrut kelompok kriminal dan dipaksa melayani wisatawan.

Indira Villegas dari The Mekong Club, lembaga swadaya masyarakat asal Hong Kong yang berfokus memerangi kerja paksa, menjelaskan bahwa pelaku kejahatan kerap memanfaatkan kelompok rentan yang menganggap ajang sebesar Piala Dunia bisa membuka peluang kerja baru. José Antonio Ruiz Hernández, Petugas Perlindungan Anak Nasional UNICEF Meksiko, turut menyoroti pengaruh konsumsi alkohol dan euforia olahraga terhadap meningkatnya risiko ini.

Sebagai langkah antisipasi, berbagai pihak kini bahu-membahu menekan risiko tersebut. Dewan Warga untuk Keamanan dan Keadilan Mexico City menggandeng PBB dan Uber untuk mendorong pelaporan kasus, sementara UNICEF membantu jaringan hotel melatih staf dan mengedukasi tamu melalui inisiatif bernama "Zero Tolerance-Blue Card".

Meski demikian, Jacinto mengingatkan bahwa risiko bagi kelompok rentan akan terus ada jauh setelah perhelatan Piala Dunia usai. "Saya rasa salah satu hal yang bisa membantu adalah ketika kita tidak hanya membicarakan Piala Dunia, tetapi juga apa yang terjadi setelahnya," ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....