Bisnis Sewa Robot Ungkap Batas Teknologi China
- 01 Jul 2026 04:44 WIB
- Bandar Lampung
RRI.CO.ID, Bandar Lampung - Robot humanoid asal China sukses mencuri perhatian dunia lewat penampilan menari dan jungkir balik yang viral. Namun di balik gemerlap panggung, bisnis penyewaan robot justru menyingkap kenyataan pahit: teknologi ini ternyata masih jauh dari siap menggantikan tenaga manusia.
Ai Lin, seorang livestreamer e-commerce asal Hangzhou, adalah salah satu yang menangkap peluang di balik tren ini. Terinspirasi penampilan robot humanoid yang memukau di Gala Festival Musim Semi tahun lalu, ia merogoh kocek hingga 30.000 dolar AS untuk membeli android pertamanya dan menyulapnya menjadi bisnis persewaan.
Hasilnya cukup menjanjikan. Dengan tarif 3.000 yuan atau sekitar 443 dolar AS per hari, pelanggan bisa menyewa robot humanoid untuk menarik pengunjung di pameran, tampil di berbagai acara, bahkan membantu momen lamaran pernikahan.
Namun di balik larisnya bisnis sewa-menyewa ini, tersimpan kenyataan yang berbeda dari video-video viral di media sosial. Menurut Ai Lin, robot-robot tersebut sejatinya belum bisa beroperasi secara mandiri.
"Pasar penjualan robot humanoid sebenarnya belum benar-benar berkembang, karena robot saat ini masih belum bisa bekerja sendiri. Robot-robot ini pada dasarnya hanyalah mainan berukuran besar," ujarnya.
Ambisi Besar Pemerintah China
Meski demikian, pemerintah China tetap menggelontorkan investasi besar-besaran untuk pengembangan robot humanoid. Teknologi ini dipandang sebagai senjata strategis untuk mendongkrak produktivitas di tengah perlambatan ekonomi dan menyusutnya jumlah angkatan kerja.
Lian Jye Su, analis utama bidang kecerdasan buatan dan robot humanoid dari lembaga riset Omdia, menilai China tengah memanfaatkan momentum langka untuk unggul dalam industri yang selama ini didominasi negara-negara seperti Jerman, Jepang, dan Amerika Serikat.
"Dengan robot humanoid, ini menjadi peluang langka di mana seluruh dunia mungkin akan melihat China sebagai pusat momen penting berikutnya," kata Su.
Potensi pasar robot humanoid memang sangat besar. Bank investasi Morgan Stanley memperkirakan akan ada satu miliar unit robot humanoid yang digunakan pada 2050, dengan nilai pasar mencapai lebih dari 5 triliun dolar AS, meski adopsi besar-besaran diperkirakan baru terjadi sekitar satu dekade mendatang.
Saat ini, China sudah mendominasi manufaktur dan penggunaan robot industri seperti lengan robotik di pabrik-pabrik. Produsen robot humanoid asal negeri tirai bambu itu pun menguasai sebagian besar pengiriman robot android secara global tahun lalu, jauh melampaui pesaing asal Amerika Serikat seperti Tesla dan Figure AI.
Awal bulan ini, pemerintah China meluncurkan inisiatif nasional untuk mempercepat penerapan robot humanoid di dunia nyata, dengan target penerapan di lebih dari 100 skenario aplikasi bernilai tinggi hingga akhir tahun ini.
CEO Tesla, Elon Musk, bahkan mengakui kekuatan China dalam persaingan ini. "Saya yakin, persaingan terbesar untuk robot humanoid akan datang dari China," ujarnya dalam paparan kinerja keuangan Januari lalu. Robot humanoid Tesla, Optimus, sendiri rencananya baru mulai diproduksi akhir tahun ini setelah mengalami sejumlah penundaan.
Maraknya Bisnis Sewa Robot
Bagi Ai Lin, momen penampilan robot humanoid di Gala Festival Musim Semi tahun lalu menjadi titik balik yang membuka matanya. "Itu membuat saya sadar bahwa robot kemungkinan besar akan diadopsi secara luas di masa depan," katanya.
Fenomena ini melahirkan banyak pengusaha mandiri seperti Ai Lin yang berusaha meraup untung dari tren yang sedang naik daun. Dengan harga jual eceran mulai dari 19.000 dolar AS untuk model dasar hingga lebih dari 100.000 dolar AS untuk model canggih, layanan sewa menjadi pilihan yang lebih terjangkau bagi masyarakat.
Di media sosial China, pencarian terkait robot humanoid akan langsung menampilkan banjir konten dari para influencer yang mempromosikan jasa persewaan. Media pemerintah China bahkan mencatat, saat ini ada lebih dari 153.000 bisnis penyewaan robot di seluruh negeri.
Tahun lalu, AGIBOT, salah satu produsen robot terkemuka China, meluncurkan anak perusahaan persewaan bernama SHAREBOT. Perusahaan ini memproyeksikan pasar sewa robot bisa mencapai nilai 1,5 miliar dolar AS pada akhir 2026.
Melalui platform daring, pelanggan bisa menyewa robot humanoid dengan tarif mulai dari 3.500 yuan atau sekitar 517 dolar AS per hari, sudah termasuk biaya pengiriman dan operator manusia yang membantu mengendalikan serta memprogram mesin tersebut. Dalam tiga bulan sejak diluncurkan, SHAREBOT telah mencatat lebih dari 5.500 pesanan.
CEO SHAREBOT, Li Yiyan, mengungkapkan bahwa bisnis sewa robot bukan hanya sumber pendapatan yang menjanjikan, tetapi juga membantu robot lebih cepat masuk ke berbagai skenario dunia nyata.
"Ini pada akhirnya membantu robot bertransisi lebih cepat dari sekadar barang pameran menjadi penerapan skala besar," ujarnya.
Hal serupa dialami Zhao Xiaohong, pengusaha berusia 52 tahun asal Provinsi Jiangsu, yang menginvestasikan delapan unit robot humanoid untuk disewakan tahun lalu. Ia menilai cara ini sebagai jalan tercepat untuk meraih keuntungan dari teknologi tersebut dalam jangka pendek.
Namun, Zhao mengamati bahwa harga sewa mulai menurun seiring memudarnya rasa penasaran masyarakat terhadap robot-robot yang sebelumnya tampil memukau dengan berbagai atraksi.
"Orang-orang mulai merasa jenuh ketika teknologi ini stagnan dan tidak berkembang, sementara pasar dibanjiri robot dengan jenis yang serupa," kata Zhao.
Lebih Pandai Tampil di Panggung daripada Bekerja
Kesenjangan antara hiburan panggung dan kemampuan kerja sesungguhnya terlihat jelas di Yizhuang, kawasan pusat teknologi di tenggara Beijing.
Di sebuah pusat pameran futuristik yang kerap menjadi destinasi kunjungan resmi pemerintah, robot anjing tampil membawakan tarian singa khas China, sementara robot humanoid berseragam jersey bernuansa Michael Jordan mahir memasukkan bola basket ke ring.
Namun tak jauh dari lokasi pameran megah tersebut, terdapat fasilitas lain yang didukung pemerintah dan justru mengungkap alasan mengapa robot-robot ini belum mampu melakukan lebih dari sekadar pertunjukan yang sudah dikoreografikan dengan baik.
Di dalam fasilitas tersebut, lebih dari 120 unit robot humanoid berdiri berjajar rapi, masing-masing menjalankan tugas tertentu secara berulang, mulai dari menyortir paket, mengganti popok, hingga menyendok popcorn, semuanya dipandu oleh pelatih manusia yang memegang kontroler di sampingnya.
Keberadaan puluhan fasilitas serupa di berbagai wilayah China mencerminkan tantangan utama industri robot humanoid: meski kecerdasan buatan berkembang pesat, robot-robot ini masih kekurangan data dunia nyata dalam jumlah besar yang dibutuhkan untuk benar-benar menjadi pekerja yang mumpuni.
Jiang Weilai, kepala fasilitas X-Humanoid, mengungkapkan bahwa produsen robot humanoid China rela membayar hingga 150 dolar AS per jam kepada perusahaan seperti X-Humanoid untuk mendapatkan data interaksi fisik, tergantung tingkat kerumitan pekerjaan yang dilakukan.
Selain keterbatasan data, kendala perangkat keras juga masih menjadi masalah besar. Marco Wang, analis robotika China dari lembaga riset Interact Analysis, menyebut tingkat kesiapan teknologi tangan robot yang lentur termasuk paling rendah di antara komponen perangkat keras lainnya.
"Anda harus memasukkan banyak fungsi ke dalam komponen yang ukurannya kira-kira sebesar sendi manusia. Ketika begitu banyak komponen dijejalkan ke ruang sekecil itu, pembuangan panas menjadi kendala besar," jelasnya.
Akibatnya, tangan robot ini rentan mengalami biaya produksi tinggi, daya tahan buruk terhadap benturan, usia pakai pendek, dan belum ada solusi teknis yang bisa langsung digunakan para insinyur, tambah Wang.
Karena keterbatasan tersebut, sebagian besar permintaan robot humanoid masih didorong oleh pemerintah China, sementara hanya sedikit yang benar-benar digunakan di lantai pabrik, itu pun sebatas proyek percontohan.
Bahkan di antara produsen terkemuka sekalipun, produktivitas robot masih kalah jauh dibanding pekerja manusia. UBTECH, salah satu perusahaan robot humanoid terbesar di China, menyebutkan kepada CNN bahwa model paling canggihnya baru mampu mencapai sekitar 80 persen produktivitas manusia, itu pun hanya pada tugas tertentu seperti menumpuk kotak dan menyortir paket.
Perlombaan Menuju Masa Depan
Meski begitu, China tetap optimistis menyambut masa depan yang serba otomatis. Saat ini, kehadiran robot sudah menjadi pemandangan biasa di berbagai kota. Di Hangzhou, robot polisi lalu lintas diterjunkan di jalan-jalan sibuk untuk mengatur arus kendaraan. Di taman-taman kota, ada warga yang terlihat mengajak jalan-jalan robot humanoidnya layaknya hewan peliharaan. Di kota-kota besar seperti Beijing, Shanghai, dan Shenzhen, robot bahkan sudah bisa membuat kopi, menuang bir, hingga menyajikan obat-obatan.
"Mereka mungkin masih terlihat sedikit kaku, tetapi sudah mulai masuk ke ruang publik," kata Joy Zhang, analis dari bank asal Prancis, BNP Paribas.
Menurut Zhang, hal ini tidak serta-merta menunjukkan robot humanoid China lebih unggul dibanding Optimus milik Tesla, melainkan mencerminkan strategi yang berbeda, yakni China lebih mengutamakan penerapan dini dan harga terjangkau untuk mendorong adopsi pasar.
Perkembangan pesat ini sejalan dengan kebijakan pemerintah China sejak 2023, yang pertama kali menempatkan robot humanoid sebagai "produk disruptif berikutnya" setelah komputer, ponsel pintar, dan kendaraan listrik.
"Perkembangan pesat teknologi robot humanoid telah menjadikannya medan baru persaingan teknologi, garda depan baru bagi industri masa depan, dan mesin penggerak baru bagi pertumbuhan ekonomi," demikian bunyi dokumen kebijakan tersebut.
Dengan memanfaatkan kekuatan manufaktur dan rantai pasok kendaraan listrik, produsen China mampu meningkatkan skala produksi sekaligus menekan harga lebih cepat. Saat ini, tercatat lebih dari 140 produsen robot humanoid beroperasi di China, menurut data lembaga riset pasar TrendForce.
Namun, membanjirnya pasar tanpa diimbangi permintaan yang memadai justru menjadi masalah tersendiri bagi banyak perusahaan dalam meraih pengembalian investasi yang layak.
"Banyak pemain kelas dua mengalami penurunan tajam dalam pendanaan dan aktivitas investasi sejak tahun lalu," ujar PK Tseng, manajer riset TrendForce.
Seiring meredupnya antusiasme pasar sewa robot humanoid, kekhawatiran akan munculnya gelembung industri pun mulai mencuat.
"Industri ini sengaja dipromosikan secara berlebihan untuk menunjukkan betapa kuatnya China dalam teknologi baru," ujar Su dari Omdia, yang mengamati adanya sedikit penurunan minat pasar terhadap sektor ini sejak awal tahun ini.
Su memperkirakan industri robot humanoid pada akhirnya akan mengerucut pada segelintir pemain besar, sementara sisanya akan bertahan berkat subsidi pemerintah daerah atau dukungan dari investor lain.
Simbol paling jelas dari ambisi China di sektor ini mungkin terlihat dari Unitree, perusahaan asal Hangzhou yang robot-robotnya sempat viral di dunia maya dan kembali memukau penonton pada Gala Festival Musim Semi tahun ini lewat aksi kung fu.
Unitree kini telah menjelma menjadi produsen robot humanoid terbesar di dunia dan tengah bersiap melantai di bursa saham Shanghai akhir tahun ini. Dalam kunjungan terakhir ke kantor pusatnya di Hangzhou, staf perusahaan terlihat sibuk menerima delegasi pembeli asal Malaysia sekaligus rombongan pejabat pemerintah China.
Meski menjadi yang terdepan, batas kemampuan teknologi saat ini tetap tampak jelas. Sebagian besar penjualan Unitree masih berasal dari institusi riset dan pendidikan, sementara penerapan di sektor industri masih kurang dari 10 persen.
Saat ditanya kapan robot buatannya bisa diterapkan di lini produksi pabrik, Manajer Hubungan Masyarakat Unitree, Yolanda Xie, memberikan jawaban yang hati-hati.
"Itu kemungkinan besar akan bergantung pada terobosan teknologi dan perkembangan industri secara keseluruhan," ujarnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....