Riset: Separuh Fitur Keamanan Anak di Medsos Tak Berfungsi
- 01 Jul 2026 04:45 WIB
- Bandar Lampung
RRI.CO.ID, Bandar Lampung - Sebuah penelitian terbaru mengungkap fakta mengejutkan: lebih dari separuh fitur keamanan anak yang digadang-gadang oleh platform media sosial besar ternyata tidak bekerja sebagaimana mestinya. Temuan ini sontak memantik pertanyaan, sejauh mana raksasa teknologi benar-benar melindungi penggunanya yang masih di bawah umur?
Cybersafety Research Center, lembaga gabungan dari New York University dan Northeastern University, menguji 86 fitur keamanan remaja di empat platform utama yakni TikTok, Instagram, Snapchat, dan YouTube. Hasilnya, hanya 35 fitur atau sekitar 40 persen yang benar-benar berfungsi sesuai klaim sekaligus mudah ditemukan dan digunakan oleh anak-anak.
Para peneliti menggunakan dua jenis akun uji coba. Pertama, akun dengan tanggal lahir yang terdaftar sebagai anak di bawah umur untuk menguji fitur perlindungan anak. Kedua, akun dewasa berusia 25 tahun ke atas untuk menguji pembatasan interaksi dengan anak-anak. Mereka mengecek apakah remaja yang menggunakan platform secara normal akan menjumpai fitur tersebut, apakah remaja yang berusaha mengakali sistem bisa lolos, serta apakah orang dewasa dapat membobol pembatasan pesan kepada anak di bawah umur.
Tingkat kegagalan fitur bervariasi di tiap platform. Snapchat mencatat kegagalan tertinggi sebesar 73 persen, disusul Instagram 66 persen, YouTube 55 persen, dan TikTok 50 persen.
Salah satu temuan mencolok terjadi pada fitur pencarian. Saat akun uji coba anak di TikTok mencari konten terkait gangguan makan dan menyakiti diri sendiri, justru muncul saran kata kunci berbahaya seperti cara berpura-pura makan dan istilah terkait melukai kulit. Hal serupa terjadi di Instagram, di mana sistem malah menawarkan alternatif kata kunci dengan ejaan yang sengaja disalahgunakan untuk menghindari pembatasan konten.
Persoalan lain ditemukan pada fitur pencegahan kontak orang dewasa dengan anak. Di Snapchat, peneliti yang menggunakan akun dewasa berhasil mengirim pesan ke akun anak tanpa hambatan apa pun. Sementara di Instagram, meski sistem mampu mencegah orang dewasa memulai percakapan dengan anak yang tidak mengikutinya, celah tetap terbuka karena anak bisa mengirim pesan lebih dulu kepada orang dewasa tersebut, dan orang dewasa itu pun bebas membalas tanpa peringatan.
Pihak platform ramai-ramai membantah temuan ini. TikTok menyatakan fitur akun remajanya telah dilengkapi lebih dari 50 pengaturan keamanan yang otomatis aktif. YouTube mengeklaim telah membangun kontrol orang tua selama lebih dari satu dekade dan akan terus memperkuat perlindungan tersebut. Adapun Meta, induk Instagram, menyebut laporan tersebut keliru dan menilai penggambaran fitur yang disebut rusak sebenarnya bekerja sesuai rancangan.
Temuan ini muncul di tengah momentum penting. Tahun ini, YouTube dan Meta telah dinyatakan bersalah secara hukum karena dianggap sengaja membuat pengguna muda kecanduan dan dirugikan. Keempat perusahaan turut menghadapi ribuan gugatan dengan tuduhan serupa, yang hingga kini masih mereka bantah.
Meski sebagian besar fitur dinilai gagal, peneliti juga mencatat sejumlah keberhasilan. Pengguna di bawah 13 tahun yang mencoba mendaftar TikTok otomatis diarahkan ke mode khusus pengguna muda yang hanya bisa melihat konten tanpa akses pencarian maupun pesan. Akun anak di Instagram pun secara otomatis diatur privat sejak awal. Keberhasilan ini, menurut peneliti, membuktikan bahwa merancang fitur keamanan anak yang benar-benar efektif sebenarnya bukan hal mustahil.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....