Elon Musk Jadi Triliiuner Pertama Dunia Berkat SpaceX

  • 17 Jun 2026 04:05 WIB
  •  Bandar Lampung

RRI.CO.ID, Bandar Lampung - Elon Musk resmi menjadi triliiuner pertama di dunia pada Jumat (13/6/2026), setelah saham perusahaan roketnya, SpaceX, melonjak tajam dalam debut perdana di bursa saham yang tercatat sebagai yang terbesar sepanjang sejarah.

Berdasarkan daftar orang terkaya versi Bloomberg, total kekayaan bersih pendiri Tesla dan SpaceX itu kini mencapai 1,11 triliun dolar AS atau sekitar Rp18.000 triliun. Pencapaian ini semakin mengukuhkan posisinya sebagai manusia terkaya di muka bumi.

SpaceX resmi melantai di bursa Nasdaq dengan valuasi 2,2 triliun dolar AS. Meski harga saham perdana ditetapkan di angka 135 dolar per lembar, perdagangan dibuka di 150 dolar dan sempat menyentuh 176,50 dolar — mencerminkan antusiasme besar investor terhadap industri luar angkasa dan perusahaan-perusahaan yang berafiliasi dengan Musk. Saham SpaceX ditutup pada harga sekitar 161 dolar di hari yang sama.

Penawaran saham perdana (IPO) SpaceX berhasil menghimpun dana 75 miliar dolar dari para investor sebelum saham perusahaan itu resmi diperdagangkan secara terbuka.

Kepemilikan Musk sebesar 42 persen di SpaceX memberikannya kendali penuh atas seluruh operasional perusahaan. Nilai kepemilikan sahamnya di SpaceX ditaksir mencapai 767,1 miliar dolar pada penutupan perdagangan, ditambah opsi saham senilai 53,8 miliar dolar. Ia juga memiliki saham Tesla senilai 168 miliar dolar, dan opsi saham Tesla sebesar 116,4 miliar dolar.

Kesenjangan Kekayaan Memantik Perdebatan

Kekayaan Musk yang belum pernah ada presedennya ini langsung memicu perdebatan sengit soal ketimpangan ekonomi global. Nilai kekayaannya kini setara dengan total produk domestik bruto (PDB) negara-negara seperti Polandia atau Swiss.

Sejumlah senator Amerika Serikat dari Partai Demokrat, termasuk Bernie Sanders dan Elizabeth Warren, turut mengecam pencapaian ini. Warren menyebutnya sebagai "peringatan keras" dan menegaskan perlunya penerapan pajak kekayaan bagi kalangan super kaya.

Musk sendiri dikenal sebagai figur kontroversial dalam politik global. Ia menyumbangkan ratusan juta dolar untuk kampanye pemilihan ulang Presiden AS Donald Trump, dan sempat memimpin Departemen Efisiensi Pemerintah (DOGE) selama beberapa bulan. Melalui kebijakan pemangkasan anggaran besar-besaran, ia bertanggung jawab atas penutupan Badan Pembangunan Internasional AS (USAID) — sebuah langkah yang menurut para peneliti yang dipublikasikan dalam jurnal medis The Lancet, berpotensi menyebabkan lebih dari 14 juta kematian tambahan pada 2030.

Perlu dicatat, status triliiuner Musk sejatinya masih bersifat di atas kertas, karena hampir seluruhnya terikat pada nilai saham di Tesla dan SpaceX. Ia juga tidak diperbolehkan menjual saham SpaceX-nya setidaknya selama satu tahun ke depan.

Ribuan Karyawan SpaceX Ikut Menjadi Jutawan

Listing SpaceX di bursa saham ini juga diperkirakan menjadikan lebih dari 4.400 karyawan aktif dan mantan karyawannya sebagai jutawan baru, berkat kepemilikan saham yang mereka terima sebagai bagian dari kompensasi kerja.

Visi Ambisius: Ekonomi Bulan dan Mars

Valuasi SpaceX yang tinggi ini lebih banyak bersandar pada optimisme atas potensi masa depan, bukan kinerja keuangan saat ini. Perusahaan ini belum mencatatkan keuntungan, bahkan merugi lebih dari 9 miliar dolar sepanjang 2025 dan paruh pertama 2026 akibat investasi besar-besaran di bidang kecerdasan buatan (AI) dan infrastruktur.

Bisnis utama SpaceX mencakup manufaktur dan peluncuran roket berbahan bakar daur ulang, satelit internet Starlink, serta bisnis AI melalui akuisisi xAI. Dana hasil IPO akan digunakan untuk memperkuat pertumbuhan di ketiga segmen tersebut, termasuk rencana ambisius membangun pusat data di orbit luar angkasa.

Dalam prospektus IPO-nya, SpaceX menyatakan misinya adalah membangun sistem dan teknologi yang memungkinkan kehidupan di berbagai planet, memahami hakikat alam semesta, serta menerangi kesadaran hingga ke bintang-bintang. Bahkan, perusahaan ini secara eksplisit menyebut rencana membangun "ekonomi bulan" — sebuah sistem pengiriman manusia dan kargo secara reguler ke Bulan dan Mars.

Meski demikian, SpaceX sendiri mengakui ketidakpastian atas ambisi tersebut. "Banyak inisiatif kami melibatkan kompleksitas teknis yang signifikan dan teknologi yang belum terbukti," tulis perusahaan dalam prospektusnya.

Investor Optimis, Analis Ingatkan Kehati-hatian

Ketidakpastian itu rupanya tidak menyurutkan minat investor. Susannah Streeter, Kepala Strategi Investasi di Wealth Club, menilai lonjakan harga saham SpaceX mencerminkan besarnya kepercayaan publik terhadap visi Elon Musk. Namun ia mengingatkan, reli hari Jumat itu lebih banyak didorong oleh hype dan kelangkaan, bukan fundamental bisnis yang kuat.

Nancy Tengler dari Laffer Tengler Investments, yang ikut membeli saham SpaceX, bahkan menyebut bisnis AI perusahaan itu sebagai "mesin pembakar uang". Meski begitu, ia tetap optimistis dan berencana berinvestasi jangka panjang tiga hingga sepuluh tahun ke depan. Tengler juga memperkirakan SpaceX dan Tesla akan bergabung dalam dua tahun ke depan, berpotensi menciptakan raksasa bisnis dengan valuasi melampaui keduanya secara terpisah.

Bagi para investor jangka panjang, pertanyaan terbesar bukan soal euforia hari pertama, melainkan seberapa kuat harga saham SpaceX akan bertahan dalam jangka panjang.

Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....