Badai dan Hama Ancam Pasokan Saus Pedas Karibia
- 06 Jun 2026 22:22 WIB
- Bandar Lampung
RRI.CO.ID, Bandar Lampung - Saus cabai adalah jiwa dari meja makan di Karibia. Sama seperti kecap di Amerika Serikat, saus pedas hadir di setiap sudut restoran dan warung makan di kawasan itu — mulai dari sajian nasi dan kacang, hingga kari dan semur.
Kini saus ikonik tersebut terancam. Perpaduan cuaca ekstrem, wabah penyakit tanaman, dan serangan hama membuat cabai scotch bonnet — bahan utama saus pedas khas Karibia — semakin sulit didapat. Harganya pun meroket, memukul para produsen yang selama ini mengekspor produknya ke Amerika Utara, Eropa, hingga Australia.
Jamaika, salah satu penghasil utama scotch bonnet, dihantam dua badai besar secara beruntun. Badai Beryl pada 2024 belum selesai pemulihannya, ketika Badai Melissa — yang tercatat sebagai badai terkuat dalam sejarah Jamaika — menerjang pada Oktober tahun lalu, meluluhkan sektor pertanian pulau itu.
"Kami sangat terbatas dan terpaksa membatalkan sejumlah pesanan," ujar Sean Garbutt dari Associated Manufacturers, perusahaan di balik merek Walkerswood yang terkenal di Jamaika. Walkerswood mengekspor lebih dari 95 persen produknya, dua pertiganya ke Amerika Serikat — setara dengan 500 kontainer kargo 6 meter setiap tahun.
Garbutt menjelaskan, banyak petani beralih menanam ubi jalar setelah Badai Beryl karena tanaman itu lebih tahan cuaca dan harganya lebih menguntungkan. Sementara saus unggulan mereka, Scotch Bonnet Pepper Sauce, membutuhkan cabai segar tanpa pewarna tambahan yang harus diolah dalam hitungan hari agar warnanya tetap cerah.
"Kami kadang mendapat keluhan bahwa saus kami tidak sepedas biasanya. Kami harus menjelaskan bahwa itu karena curah hujan yang terlalu tinggi," kata Garbutt. Hujan lebat memang dapat melemahkan kepedasan buah scotch bonnet.
Drew Gray, cucu pendiri Gray's Pepper yang telah berdiri lebih dari 50 tahun, menggambarkan betapa pentingnya saus ini bagi masyarakat Jamaika. "Saus pedas ada di setiap meja makan. Rasanya seperti penghinaan kalau tidak tersedia," katanya.
Sebagai salah satu pembeli terbesar scotch bonnet di Jamaika, Gray's Pepper merasakan dampak kelangkaan ini secara langsung. "Perubahan iklim memukul Karibia paling keras. Badai bertubi-tubi menghancurkan sebagian besar panen, dan para petani semakin enggan menanam kembali," ujar Gray.
"Setelah Melissa, harga scotch bonnet naik sekitar 10 kali lipat. Dalam dua tahun terakhir, kenaikan keseluruhan mencapai 40–50 persen," tambahnya.
Untuk bertahan, Gray menjaga stok bahan baku hingga enam bulan ke depan. Meski membebani arus kas, strategi ini terbukti ampuh. "Pabrik kami juga terdampak Melissa karena tepat di jalur badai. Tapi dalam dua minggu, pengiriman sudah berjalan kembali," tuturnya.
"Prinsip saya: produksi harus terus berjalan. Rantai ritel besar tidak peduli apakah ada badai atau tidak — mereka hanya ingin produknya tersedia tepat waktu," pungkas Gray.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....