Energi Murah, Senjata Rahasia China Kalahkan AS
- 31 Mei 2026 23:40 WIB
- Bandar Lampung
RRI.CO.ID, Bandar Lampung - Pusat data (data centre) adalah jantung dari ekosistem AI. Fasilitas komputasi raksasa ini dibutuhkan untuk melatih dan menjalankan model-model AI, dan membutuhkan pasokan listrik yang luar biasa besar. Menurut Badan Energi Internasional (IEA), sebuah pusat data tipikal dapat mengonsumsi listrik setara 100.000 rumah tangga, sementara fasilitas hyperscale generasi terbaru bahkan bisa menyedot daya sebesar konsumsi dua juta rumah.
Di sinilah China unggul jauh. Negeri Tirai Bambu itu sudah menghasilkan listrik lebih dari dua kali lipat produksi AS, dan kesenjangan ini diprediksi akan terus melebar. Lembaga riset BloombergNEF memperkirakan China akan menambah kapasitas pembangkit listrik enam kali lebih banyak dari AS dalam lima tahun ke depan, dengan sebagian besar berasal dari energi terbarukan seperti tenaga surya dan angin.
Hanya pada 2025, China menambah kapasitas energi angin dan surya sebesar lebih dari 430 gigawatt — menyumbang lebih dari separuh total kapasitas energi terbarukan yang ditambahkan secara global sepanjang tahun itu.
Strategi "Data Timur, Komputasi Barat"
China tidak hanya mengandalkan kuantitas energi, tetapi juga merancang strategi jangka panjang yang mengintegrasikan pusat data dengan sektor energi terbarukan yang tengah berkembang pesat. Melalui inisiatif East Data, West Computing, pemerintah China memusatkan pembangunan pusat data baru di wilayah pedalaman yang jarang penduduk, di mana lahan dan sumber energi terbarukan berlimpah.
Awal Mei ini, Beijing mengumumkan beroperasinya proyek energi terbarukan skala besar pertama yang terhubung langsung ke pusat data. Proyek angin dan surya berkapasitas 500 megawatt di wilayah Ningxia, barat laut China, akan menyuplai listrik ke pusat data cloud milik China Datang melalui jalur transmisi khusus.
"Dalam jangka panjang, negara yang mampu menyediakan listrik murah, stabil, dan rendah karbon akan memiliki keunggulan besar dalam infrastruktur AI," kata Qiyang Xiong, kandidat doktor di Universitas Renmin China yang berspesialisasi dalam kebijakan AI dan energi.
AS Masih Unggul, tapi Jarak Menyempit
Saat ini, AS masih memimpin dalam jumlah pusat data secara keseluruhan. Menurut Indeks AI Universitas Stanford, AS memiliki sekitar 5.427 pusat data pada 2025, dibandingkan 449 milik China. Perusahaan teknologi Silicon Valley seperti Amazon, Microsoft, Meta, dan Alphabet juga diproyeksikan membelanjakan 630 miliar dolar AS untuk investasi pusat data dan AI sepanjang 2026 — jauh melampaui raksasa teknologi China.
Namun China membangun pusat data dengan laju yang sangat cepat. Jumlah rak pusat data China tumbuh 30 persen per tahun antara 2016 hingga 2023. Pada 2030, kapasitas pusat data China diperkirakan mencapai 60 gigawatt — hampir dua kali lipat level saat ini.
"Basis manufaktur China yang besar dan regulasi yang lebih longgar membuat pembangunan pusat data dapat berlangsung jauh lebih cepat dibanding di AS," ujar Leah Fahy, ekonom senior untuk China di Capital Economics. Ia menambahkan bahwa pusat data modular buatan Huawei kini dapat dibangun hanya dalam enam bulan, sementara fasilitas serupa di AS membutuhkan setidaknya satu tahun.
Jaringan Listrik AS Mulai Kewalahan
Di sisi lain, AS mulai menghadapi tekanan nyata. Konsultan energi Wood Mackenzie mencatat bahwa keterbatasan jaringan listrik AS menyebabkan proyek pusat data baru turun 50 persen secara kuartalan pada akhir 2025. Selain itu, penolakan masyarakat terhadap kehadiran pusat data di berbagai wilayah turut menghambat ekspansi — sebuah tantangan yang tidak dihadapi China.
Tokoh-tokoh teknologi terkemuka AS pun mulai berterus terang soal keunggulan China ini. Elon Musk menyebut energi listrik sebagai "faktor pembatas fundamental" dalam penggelaran AI. "Sangat segera, kita akan memproduksi lebih banyak chip daripada yang bisa kita hidupkan — kecuali China," ujarnya dalam forum Davos, Januari lalu.
Keunggulan yang Tak Tanpa Batas
Meski demikian, keunggulan energi China juga memiliki keterbatasan. Sebagian besar pusat data masih terkonsentrasi di kota-kota besar wilayah timur seperti Beijing, Shanghai, dan Shenzhen, yang justru mulai menghadapi kesulitan pasokan listrik. Jaringan listrik China juga dinilai terfragmentasi, sehingga aliran listrik antardaerah belum berjalan mulus.
Terlepas dari tantangan itu, para analis sepakat bahwa pertarungan AI kini bukan sekadar soal chip, melainkan juga soal energi. "Para pemenang siklus ini akan menguasai semikonduktor, kontrak energi, dan air pendingin — dan China telah membangun strateginya di sekitar sumber daya yang ia kendalikan," kata Howard Yu, Direktur Center for Future Readiness di IMD Business School, Swiss.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....