Karyawan Google Didakwa Curang di Platform Prediksi Polymarket
- 31 Mei 2026 23:41 WIB
- Bandar Lampung
RRI.CO.ID, Bandar Lampung - Michele Spagnuolo (36), warga negara Italia yang berdomisili di Swiss, didakwa oleh otoritas AS atas tuduhan penipuan komoditas, penipuan kawat, dan pencucian uang. Ia diduga menggunakan data rahasia milik Google untuk memenangkan taruhan senilai lebih dari 1,2 juta dolar AS di Polymarket.
Menurut dokumen tuntutan pidana yang dibuka pada Rabu (28/5), Spagnuolo menggunakan akun bernama "AlphaRaccoon" untuk memasang taruhan pada berbagai pasar prediksi yang terkait dengan hasil Google Year in Search 2025. Total nilai taruhan yang ia pasang mencapai sekitar 2,75 juta dolar AS.
Jaksa AS menyebutkan, salah satu taruhan Spagnuolo berhasil memprediksi bahwa musisi indie pop d4vd akan menduduki puncak daftar tokoh paling banyak dicari di Google sepanjang tahun lalu. Taruhan itu dilakukan hanya beberapa jam setelah ia mengakses data rahasia di internal Google.
Jaksa Agung untuk Distrik Selatan New York, Jay Clayton, menegaskan bahwa kasus ini mengirimkan pesan tegas kepada para pelaku industri.
"Orang dalam perusahaan tidak dapat menggunakan informasi bisnis rahasia untuk meraup keuntungan di pasar kita," ujar Clayton. "Insider trading merusak integritas pasar, dan masyarakat Amerika menginginkan perilaku serakah semacam ini dituntut secara hukum," tambahnya.
Google dalam pernyataan resminya menyatakan tengah bekerja sama dengan aparat penegak hukum dan menegaskan bahwa penggunaan informasi rahasia untuk kepentingan pribadi merupakan pelanggaran berat terhadap kebijakan perusahaan. Spagnuolo kini telah dibebastugaskan dari jabatannya.
Sementara itu, Polymarket menyatakan pihaknya telah bekerja sama erat dengan Kantor Jaksa AS dalam penyelidikan ini. Platform tersebut mengklaim menjadi satu-satunya platform prediksi yang kerja samanya telah menghasilkan dakwaan insider trading di Amerika Serikat.
Kasus Serupa di Polymarket
Ini bukan kasus pertama yang melibatkan Polymarket. Bulan lalu, seorang tentara AS bernama Gannon Ken Van Dyke (38) juga didakwa menggunakan informasi militer rahasia untuk memasang taruhan di platform yang sama. Van Dyke diduga meraup lebih dari 400.000 dolar AS dengan memanfaatkan informasi terkait operasi penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....