Maison Margiela menuju China, Tantangan Global
- 30 Apr 2026 17:30 WIB
- Bandar Lampung
RRI.CO.ID, Bandar Lampung - Ketika Glenn Martens ditunjuk sebagai direktur kreatif Maison Margiela yang berbasis di Paris pada Januari 2025, ia berharap tak perlu lagi tampil di depan publik. Sebab, pendiri merek tersebut, Martin Margiela, nyaris tak pernah terlihat. Anonimitas adalah kunci filosofi busana ala Margiela: kecil, artisanal, dan sulit dijangkau.
Namun, pada suatu sore Maret di Paris, Martens justru rela berhadapan dengan kamera—tanpa topeng, namun tetap mengenakan jaket putih khas rumah mode tersebut. Ia berbicara tentang bagaimana membuat merek yang selama ini berbicara kepada segelintir penikmat busana, tetap relevan di seluruh dunia.
Langkah awalnya: meninggalkan ibu kota mode tradisional, Paris, dan memboyong Margiela ke China. Pada 1 April mendatang, ia akan menggelar peragaan busana besar-besaran di Shanghai, dilanjutkan dengan program publik gratis selama beberapa pekan. Martens ingin Margiela berbicara kepada "semua orang, tidak hanya ceruk pemikiran kami."
Martens, yang juga dikenal di Diesel, tak ingin menciptakan "keajaiban satu kali" di media sosial. Ia ingin Margiela mewakili keindahan tak kasatmata, kemewahan yang berarti mendorong cara berpikir dan berkarya alternatif. "Nilai utamanya menjadi couture," ujarnya.
Rangkaian acara di China akan berlangsung di beberapa kota, termasuk pameran koleksi Tabi di Chengdu, lokakarya Bianchetto di Shenzhen, serta eksplorasi topeng khas Margiela di Beijing. Proyek anyar bernama Maison Margiela/folders pun diluncurkan agar semua riset dan citra merek bisa diakses publik.
Mengapa China? Sejak 2019, Maison Margiela telah membuka 26 toko di sana. "Saat Anda bertemu langsung dengan orang-orang, Anda menciptakan ikatan yang lebih kuat. Karena itu kami membatalkan pekan mode di Paris," kata Martens.
Tantangan lain adalah media sosial dan selebriti. Martens mencontohkan Kim Kardashian sebagai sosok publik yang bisa "menjadi Margiela" saat mengenakan busananya. Meski demikian, ia mewaspadai risiko kritik daring. "Kita akan mendapat tamparan dari berbagai sisi. Tugas saya adalah tetap tenang, fokus pada apa yang kami kerjakan, dan tidak terlalu mendengarkan hiruk-pikuk di sekitar," pungkasnya.
Dengan keberanian keluar dari bayang-bayang anonimitas, Martens berharap Margiela bisa berteriak—jika tidak lebih keras, setidaknya lebih orisinal—di panggung mode global.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....