Pertemuan Terakhir Powell sebagai Ketua The Fed

  • 30 Apr 2026 16:46 WIB
  •  Bandar Lampung

RRI.CO.ID, Bandar Lampung - The Federal Reserve kembali mempertahankan suku bunga acuan untuk ketiga kalinya secara berturut-turut, di tengah ketidakpastian ekonomi akibat konflik Amerika Serikat-Iran.

Dalam pertemuan Rabu (14/5) waktu setempat, para pejabat The Fed memutuskan suku bunga pinjaman acuan tetap berada di kisaran 3,5–3,75%. Pertemuan ini menjadi yang terakhir bagi Jerome Powell selaku Ketua The Fed sebelum masa jabatannya berakhir pada 15 Mei.

Dalam konferensi pers pascapertemuan, Powell mengonfirmasi dirinya akan mundur dari posisi ketua, namun tetap bertahan sebagai anggota dewan gubernur bank sentral AS. Masa jabatannya sebagai gubernur The Fed masih berlangsung hingga Januari 2028.

Powell juga menyoroti ketidakpastian yang terus berlanjut akibat perang dengan Iran serta meningkatnya perbedaan pendapat di dalam komite penetapan suku bunga yang beranggotakan 12 orang.

Warsh Dinilai Akan Dorong Pemangkasan Suku Bunga

Kevin Warsh, calon pengganti Powell yang dicalonkan Presiden Donald Trump, diperkirakan akan mendorong pemangkasan suku bunga lebih lanjut tahun ini. Proses konfirmasinya telah melewati rintangan penting dan kini tinggal menunggu pemungutan suara akhir di Senat.

Namun, sejumlah pejabat The Fed menilai saat ini belum ada argumen ekonomi yang kuat untuk melonggarkan kebijakan moneter dalam waktu dekat.

Keputusan mempertahankan suku bunga nyaris bulat, kecuali Gubernur The Fed Stephen Miran yang untuk keenkal kalinya secara berturut-turut memberikan suara berbeda demi suku bunga lebih rendah.

Tiga presiden bank sentral wilayah—Beth Hammack (Cleveland), Neel Kashkari (Minneapolis), dan Lorie Logan (Dallas)—juga disebut tidak mendukung pernyataan kebijakan yang mengarah pada pelonggaran.

Ini adalah pertama kalinya sejak Oktober 1992 terjadi empat perbedaan pendapat dalam satu pertemuan. Powell menyebut perbedaan tersebut sebagai bagian dari debat yang "dinamis".

"Sejumlah orang ingin pernyataan kebijakan mencerminkan sikap netral, sehingga kenaikan suku bunga sama mungkinnya dengan pemangkasan," ujar Powell.

Beberapa faktor membuat pemangkasan suku bunga sulit dilakukan dalam waktu dekat, antara lain harga energi yang tetap tinggi akibat perang, belanja masyarakat AS yang masih kuat, serta pasar tenaga kerja yang lemah namun mulai stabil.

Powell menjadi ketua The Fed pertama sejak 1948 yang tetap bertahan sebagai anggota dewan usai masa jabatan ketua berakhir. Ia menyatakan akan mundur sepenuhnya setelah penyelidikan terkait proyek renovasi markas besar The Fed oleh Departemen Kehakiman AS benar-benar selesai.

"Saya menunggu penyelidikan ini selesai secara transparan dan final. Saya akan pergi ketika saya merasa saat itu tepat," kata Powell.

Powell juga mengakui bahwa perang dengan Iran menyulitkan prediksi arah suku bunga. Pernyataan kebijakan terbaru The Fed secara eksplisit menyebut bahwa "perkembangan di Timur Tengah berkontribusi pada tingkat ketidakpastian yang tinggi terhadap prospek ekonomi".

"Kami hanya menunggu dan melihat apa yang terjadi di Timur Tengah serta implikasinya terhadap ekonomi AS. Ada kelompok yang merasa kami tidak perlu terburu-buru," pungkas Powell.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....