Analisis: Strategi Disney Hadapi Ancaman Trump di tengah Gugatan First Amendment
- 30 Apr 2026 16:13 WIB
- Bandar Lampung
RRI.CO.ID, Bandar Lampung - Bayangkan menjadi Josh D’Amaro saat ini. Baru enam minggu menjabat sebagai CEO Disney, ia tak ingin terlibat dalam pusaran politik. Namun, tekanan dari Presiden Trump memaksanya masuk ke dalam pertarungan hukum First Amendment yang tak pernah ia minta.
D’Amaro sadar, bukan kebetulan jika FCC (Komisi Komunikasi Federal AS) menantang lisensi siaran ABC, tepat saat Trump menuntut pemecatan Jimmy Kimmel atas lelucon yang dianggapnya keterlaluan. Meski ia pribadi mungkin tak menyukai lelucon tersebut, kini itu bukan lagi masalah utama.
Yang jelas, ribuan karyawan Disney—yang setidaknya sama anti-Trump-nya dengan rata-rata warga AS—mengawasi setiap gerak-gerik perusahaan. Secara hukum, posisi Disney kuat. Trump sudah bertahun-tahun mengancam lisensi mereka dengan balas dendam.
Namun, D’Amaro mungkin masih ragu: apakah perpanjangan konflik ini sejalan dengan kepentingan perusahaan di era digital dan streaming? Ia juga tak bisa melupakan kesepakatan damai Disney dengan Trump pada Desember 2024 lalu, yang kini dinilai banyak pihak tak membawa ketenangan. “Ini pelajaran bagi semua yang menyerah pada presiden,” ujar Senator Adam Schiff. “Anda tidak bisa menyewa kebaikan hatinya, hanya menyewanya sebentar.”
Di satu sisi, mempertahankan Kimmel di tengah amarah sayap kanan terasa tak nyaman. Logo Disney muncul di layar saat segmen TV membahas serangan Trump. Tak ada yang ingin pengunjuk rasa kembali berdemo di Disneyland. Namun melepas Kimmel—atau bahkan menjual stasiun TV—juga berisiko merusak merek lebih parah.
D’Amaro ingin produk Disney bisa dinikmati lintas spektrum politik, di seluruh dunia. Namun ia tahu Trump tumbuh subur dengan memaksa institusi menjalani uji kesetiaan publik. Kabar baiknya, mayoritas warga AS tak ingin tangan besi pemerintah mengontrol televisi atau lelucon komedian. Isu kebebasan berbicara ini bahkan menyatukan kaum liberal dan libertarian.
Trump mungkin akan berpindah ke target baru besok lusa. Musim gugur lalu ia sempat mengancam akan menggugat ABC karena menayangkan Kimmel lagi—nyatanya tak pernah ditindaklanjuti. Namun ancaman serupa bisa meletus kapan saja.
Kini media pro-Trump tak hanya mengincar Kimmel, tapi juga acara The View. FCC bahkan membuka investigasi soal dugaan pelanggaran aturan waktu tayang yang sama. Para staf ABC News pun was-was, takut dampak dingin ini membekukan keputusan editorial mereka.
D’Amaro tahu sejarah akan menilai langkahnya saat ini. Ia tak ingin menyesal 10 atau 20 tahun mendatang. Dan jika Disney tak berani menarik garis batas di sini, siapa lagi?
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....