Keluarga Korban Tembak di Kanada Gugat OpenAI dan Sam Altman
- 30 Apr 2026 16:10 WIB
- Bandar Lampung
RRI.CO.ID, Bandar Lampung - Tujuh keluarga korban penembakan di sebuah sekolah di Tumbler Ridge, Kanada, menggugat OpenAI dan CEO-nya, Sam Altman, Rabu (30/4/2026). Para keluarga menuding perusahaan teknologi tersebut dan chatbot buatannya, ChatGPT, turut bertanggung jawab atas cedera atau kematian anak-anak mereka.
Gugatan ini dilayangkan setelah Altman meminta maaf kepada masyarakat setempat pekan lalu. Ia mengakui bahwa perusahaannya gagal memberi tahu otoritas tentang percakapan pelaku dengan ChatGPT—meskipun staf internal sebelumnya telah menandai akun tersebut.
Peristiwa tragis itu terjadi pada Februari lalu. Seorang perempuan berusia 18 tahun menewaskan delapan orang dan melukai puluhan lainnya dalam serangan yang menjadi penembakan sekolah paling mematikan di Kanada dalam beberapa dekade. Polisi menyatakan pelaku terlebih dahulu membunuh ibu dan saudara tirinya di rumah, lalu menembak di sebuah sekolah menengah setempat yang merenggut nyawa lima siswa dan satu guru, sebelum mengakhiri hidupnya sendiri dengan tembakan.
Dalam gugatan terpisah yang diajukan di pengadilan distrik federal California Utara, keluarga korban menuding ChatGPT telah memperdalam obsesi kekerasan pelaku dan mendorongnya melakukan serangan. Salah satu penggugat, Cia Edmonds, mengajukan gugatan untuk putrinya yang masih berusia 12 tahun, Maya Gebala, yang kini dirawat di rumah sakit akibat cedera otak dan tengkorak. Edmonds menyebut jika ChatGPT menolak membahas kekerasan dengan pelaku, putrinya "akan menyelesaikan kelas tujuh bersama teman-temannya."
Gugatan juga menuduh OpenAI sengaja tidak memperingatkan otoritas karena khawatir dapat merusak bisnis perusahaan dan prospek penawaran saham perdananya.
Para keluarga menuntut ganti rugi finansial nominal tidak ditentukan, serta perintah pengadilan agar OpenAI mencegah pengguna yang dinonaktifkan karena membahas kekerasan untuk membuat akun ChatGPT baru, memberi tahu aparat penegak hukum saat sistem internal mendeteksi risiko bahaya nyata, serta melakukan perubahan desain dan keamanan lainnya.
Juru bicara OpenAI menyatakan tragedi di Tumbler Ridge sangat memilukan, dan perusahaan memiliki kebijakan tanpa toleransi terhadap penggunaan alat mereka untuk membantu kekerasan. Pihaknya juga mengaku telah memperkuat perlindungan, termasuk meningkatkan cara ChatGPT merespons tanda-tanda tekanan psikologis dan mendeteksi pelanggar kebijakan berulang.
Dalam suratnya kepada masyarakat Tumbler Ridge, Altman menyebut penderitaan warga "tak terbayangkan" dan sangat menyesal tidak memberi tahu aparat setempat tentang akun yang diblokir pada Juni 2025. OpenAI mengakui akun asli pelaku dinonaktifkan karena melanggar kebijakan aktivitas kekerasan.
Perusahaan itu juga mengakui bahwa setelah serangan, mereka mengetahui pelaku membuat akun kedua untuk terus menggunakan ChatGPT. Namun OpenAI membantah tuduhan bahwa mereka secara eksplisit mengarahkan pengguna yang dinonaktifkan untuk membuat akun baru.
Selain kasus ini, OpenAI juga menghadapi gugatan dari beberapa keluarga yang menuding chatbot mereka mendorong anak-anak bunuh diri, serta penyelidikan pidana di Florida terkait penembakan terpisah di Universitas Negeri Florida.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....