Tips Ekspor untuk Pemula dari Praktisi Berpengalaman

  • 28 Feb 2026 21:18 WIB
  •  Bandar Lampung

Dunia ekspor Indonesia menyimpan potensi besar yang sayang jika dilewatkan para pelaku UMKM. Namun, masih banyak anggapan bahwa menjual produk ke luar negeri adalah proses rumit dan hanya bisa dilakukan perusahaan besar. Yuli, praktisi ekspor sejak 1997 sekaligus pendiri Madani Export Academy, membagikan kiat jitu memulai langkah ekspor dalam podcast PecahTelur baru-baru ini.

Berbekal pengalaman menembus pasar Amerika, Eropa, Australia, dan Jepang, Yuli menegaskan bahwa kunci utama ekspor bukanlah tergesa-gesa mencari pembeli, tetapi memahami produk terlebih dahulu. "Temukan barangnya dulu sehingga product knowledge kita mumpuni. Kita harus tahu nilai dan spesifikasi barang karena sangat mempengaruhi negosiasi," ujarnya.

Menurut Yuli, era digital telah mengubah peta persaingan ekspor. Jika dulu akses informasi dan jaringan sangat terbatas, kini pelaku UMKM bisa mempromosikan produk melalui website dan media sosial. Bahkan, tren ekspor retail dengan skala satu hingga dua karton kini mulai umum dilakukan, membuka peluang bagi skala usaha kecil.

Meski begitu, ia mengingatkan adanya tantangan yang kerap menjebak pemula. Produk makanan menjadi kategori tersulit karena regulasi kesehatan dan masa kedaluwarsa ketat di setiap negara. Untuk pemula, Yuli menyarankan menyasar negara serumpun seperti Malaysia karena kemiripan budaya dan rasa. Selain itu, kesalahan fatal lain adalah keliru menghitung harga jual.

"Kalau ada satu poin biaya terlupakan dalam perhitungan harga, itu sama saja menghilangkan profit kita," tegasnya. Banyak pemula hanya menghitung harga beli dan margin, namun lupa memasukkan biaya logistik dari gudang ke pelabuhan, biaya dokumen, hingga jasa pelabuhan. Akibatnya, keuntungan bisa tergerus habis.

Yuli juga mengingatkan agar pelaku ekspor tidak mudah tergiur order besar sebelum ada bukti kuat. "Seorang buyer itu valid kalau dia sampai mengeluarkan Purchase Order (PO) kepada kita. Kalau sudah keluar PO, itu sudah pasti dia akan beli," jelasnya. Ia pun menyarankan pemula menghindari sistem pembayaran "setelah barang diterima" karena risiko penipuan sangat tinggi.

Terakhir, Yuli menekankan pentingnya menjaga integritas dengan mengirimkan barang sesuai janji. "Jangan hanya menyalahkan buyer yang rewel, tapi kita sendiri harus memastikan apakah sudah mengirim barang sesuai kesepakatan," pungkasnya.

Rekomendasi Berita