Kopi Tuku: Ekspansi "Mindful" dari Cipete ke Mancanegara
- 31 Jan 2026 10:13 WIB
- Bandar Lampung
RRI.CO.ID, Bandar Lampung - Dalam podcast Dr. Indrawan Nugroho, Andanu Prasetyo (Mas Dio), Founder Kopi Tuku dan CEO Maka Group, mengungkap perjalanan brand kopi lokal yang lahir pada 2015 ini. Kopi Tuku berdiri di spektrum unik antara warisan (heritage) dan skala besar (hyper-scale), berawal dari kegelisahan untuk memberdayakan petani kopi dan membangun ekosistem hilir.
Kopi Tuku lahir dari observasi Mas Dio terhadap industri kopi Indonesia yang belum optimal. Dimulai dari satu gerai di Cipete sebagai "roots house", mereka menghabiskan 2,5 tahun untuk meracik Es Kopi Susu Gula Rena yang terjangkau dan lezat. Pertumbuhannya organik: dari warisan lokal menjadi 60 gerai, dengan target 100 gerai sengaja ditunda untuk menjaga kultur. Filosofi utamanya adalah: "Lahir karena mimpi, besar karena tetangga."
Konsep "tetangga" terinspirasi dari pengalaman hangat berkomunitas di Melbourne dan Jogja. Filosofi humanis dan gotong royong ini diterjemahkan ke dalam desain gerai (kursi berhadapan, toilet yang butuh "permisi"), perekrutan barista "orang baik", hingga interaksi personal seperti mengganti gelas yang tumpuh dengan naik motor. Bagi Kopi Tuku, "tetangga" adalah konsumen yang memberikan konteks kebermanfaatan lebih besar.
Berbeda dengan ekspansi masif, Kopi Tuku memilih strategi "fast tapi mindful". Prinsipnya, menambah satu gerai per bulan pun sudah "cepat" asalkan tidak mengorbankan konsistensi rasa, keterlibatan komunitas, dan dampak positif. Mereka bahkan membuka pop-up di Seoul dan Belanda untuk belajar dari "tetangga baru", menciptakan kurva pertumbuhan kedua, dan membawa ke-Indonesia-an ke dunia. Nilai inti grup adalah menciptakan pengalaman "menyenangkan" dan solutif bagi semua pihak.
Dengan omzet tahunan mencapai Rp395 miliar, produktivitas dijaga melalui desain gerai takeawaydan pengalaman konsisten. Inovasi menu strategis mengangkat komoditas lokal, seperti Kopi Kelapa dan Es Goses (jeruk nipis, madu, kelapa), untuk mengurangi ketergantungan pada es kopi susu dan mendorong cross-selling.
Bagi Kopi Tuku, bisnis mereka bukan sekadar menjual kopi, tetapi menciptakan "ruang baik" yang melahirkan komunitas dan gerakan positif (#BertetanggaBaik). Keberlanjutan dibangun melalui karakter dan nilai yang jelas, bukan promo atau diskon, seperti terlihat dalam perayaan 10 tahun mereka dengan naming rights di MRT Jakarta.
Kisah Kopi Tuku membuktikan bahwa ekspansi bisnis bisa dilakukan dengan hati, menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan nilai-nilai manusiawi yang menjadi fondasinya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....