Rahasia Brand Ikonik Indonesia dari Pakar 50 Tahun
- 23 Des 2025 11:52 WIB
- Bandar Lampung
Pakar branding Subiakto Priosoedarsono membongkar pengalamannya selama 50 tahun membangun merek-merek legendaris Indonesia. Ia menekankan perbedaan mendasar antara marketing dan branding. Menurutnya, branding bukan sekadar penjualan instan, tetapi menciptakan transformasi dengan memberikan makna abadi yang mengubah konsumen menjadi versi lebih baik.
Subiakto berbagi kisah sukses membidani kelahiran beberapa ikon:
- Kopiko (1986): Ditolak dalam riset awal, kopi ‘yang digantikan’ ini justru meledak lewat strategi distribusi asongan. Slogan “Gantinya Ngopi” terbukti menjadi aset abadi selama 39 tahun.
- Extra Joss (1994): Diposisikan sebagai “biangnya energi” yang terjangkau, ditargetkan untuk pekerja dengan ritual harian.
- Indomie (1994-95): Mengubah citra dari “Seleraku” menjadi “Selera Indonesia”, lalu menguasai momen Ramadan dengan konsep “selera sahur/buka” melalui iklan yang menggugah selera.
- Kampanye SBY-JK 2004: Mengusung slogan “Bersama Kita Bisa” untuk mencerminkan gaya kepemimpinan inklusif dan mengajak partisipasi rakyat.
Prinsip utama yang ia pegang: brand kuat dibangun perlahan dengan bukti janji, sebagai investasi makna (brand asset), bukan sekadar biaya pemasaran (marketing cost).
Kutipan Kunci Subiakto:
- “Brand itu sekali dilihat langsung diingat dan susah dilupakan. Kayak mantan.”
- “Marketing hanya mengenal marketing cost, tapi branding kenal brand aset. Berapapun yang Anda taruh akan bisa diambil kembali.”
- “Tinggalkan makna, jangan tinggalkan nama.”
Strategi ini, menurut Subiakto, adalah fondasi untuk melawan segala tren instan, termasuk AI. Konsumen membeli bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan (being), tetapi untuk menjadi pribadi yang lebih baik (becoming).
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....